Tantangan Keamanan Arktik: Amerika Trump, NATO, dan Kepentingan Global
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sen, 12 Jan 2026
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Pertikaian antara Amerika Serikat (AS) dan negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) semakin memanas akibat rencana Presiden Donald Trump untuk mengambil alih wilayah Greenland. Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan politik dan militer meningkat, dengan AS bersiap melakukan tindakan yang dianggap oleh sebagian pihak sebagai ancaman terhadap stabilitas regional.
Trump sendiri telah menunjukkan ketegasannya dalam mengekspresikan keinginan untuk mengubah status quo. Ia menyatakan bahwa Greenland harus menjadi bagian dari AS demi mencegah Rusia atau China menguasai wilayah tersebut. Namun, klaim ini sering kali tidak didukung oleh bukti konkret, termasuk data pelacakan kapal yang menunjukkan tidak ada aktivitas kapal China atau Rusia di dekat Greenland.
Rencana Militer AS dan Kekhawatiran Eropa
Menurut laporan media internasional, Trump telah memerintahkan Komando Operasi Khusus Gabungan (JSOC) untuk menyusun rencana invasi ke Greenland. Langkah ini dilakukan setelah suksesnya operasi militer di Venezuela pada 3 Januari 2026. Namun, pemimpin JSOC menolak rencana tersebut karena dianggap melanggar hukum dan tidak memiliki dukungan dari Kongres AS.
”Kita akan melakukan sesuatu di Greenland, suka atau tidak suka. Jika kita tidak melakukannya, Rusia atau China akan mengambil alih Greenland dan kita tidak bisa punya Rusia atau China sebagai tetangga,” kata Trump dalam pidatonya di Gedung Putih, Jumat.
Komentar ini menimbulkan kekhawatiran besar di Eropa. Negara-negara seperti Jerman, Swedia, dan Belgia mendesak NATO untuk segera bertindak dan memperkuat keamanan Arktik. Mereka khawatir jika AS benar-benar menginvasi Greenland, maka NATO akan mengalami keruntuhan struktural.
Upaya NATO untuk Memperkuat Keamanan Arktik
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte sedang berdiskusi dengan Menlu AS Marco Rubio tentang strategi keamanan Arktik secara keseluruhan. Tujuannya adalah untuk mengalihkan fokus AS dari Greenland dan membangun kemitraan yang lebih kuat dalam menjaga keamanan wilayah tersebut.
Jerman mengusulkan pembentukan misi NATO gabungan untuk melindungi Arktik. Sementara itu, Belgia menyarankan model misi Baltic Sentry dan Eastern Sentry sebagai contoh untuk Arctic Sentry. Pendekatan ini mencakup penggunaan pesawat nirawak, sensor, dan teknologi lainnya untuk memantau daratan dan lautan.
Peran Denmark dan Keberadaan Militer AS di Greenland
Greenland merupakan wilayah otonom yang di bawah yurisdiksi Denmark. Selama Perang Dunia II, AS membantu mempertahankan Greenland setelah Denmark jatuh ke tangan Nazi Jerman. Sekitar 150 personel AS ditempatkan secara permanen di pangkalan militer Pituffik.
Selama Perang Dingin, jumlah pasukan AS di Greenland mencapai 6.000 orang. Alasannya adalah kekhawatiran rudal Soviet melintasi wilayah tersebut menuju Amerika Utara. Berdasarkan perjanjian 1951, AS dapat dengan mudah memberi tahu Denmark bahwa mereka akan mengirim lebih banyak pasukan.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen telah memperingatkan bahwa invasi AS ke Greenland akan meruntuhkan NATO. Jerman dan Swedia mendukung posisi Denmark, sementara Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson menekankan pentingnya menjaga tatanan dunia yang berbasis aturan.
Investasi Militer di Eropa
Untuk memperkuat pertahanan udara, Swedia akan menginvestasikan 1,6 miliar dolar AS. Dana ini dialokasikan untuk sistem pertahanan udara berbasis darat. Pada November 2025, Swedia juga menghabiskan 366 juta dolar AS untuk pembelian rudal jarak pendek permukaan ke udara IRIS-T.
Sementara itu, Jerman menganggarkan 59 miliar dolar AS untuk pengeluaran pertahanan baru. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menekankan bahwa keamanan Arktik menjadi prioritas bagi NATO.
Perspektif dari Panglima Tertinggi NATO
Panglima Tertinggi Sekutu NATO Jenderal Alexus Grynkewich menegaskan bahwa tidak ada ancaman langsung terhadap wilayah NATO. Namun, ia mengakui bahwa kapal-kapal Rusia dan China pernah terlihat berpatroli bersama di pantai utara Rusia dan dekat Alaska serta Kanada. Ini membenarkan pernyataan Trump.
Grynkewich menduga bahwa Rusia dan China bekerja sama untuk mendapatkan akses yang lebih besar ke Arktik seiring dengan mencairnya es akibat pemanasan global. ”Kami siap mempertahankan setiap inci wilayah NATO,” katanya di Finlandia.
Perdebatan mengenai masa depan Greenland dan keamanan Arktik semakin rumit. Meskipun AS ingin mengambil alih wilayah tersebut, negara-negara Eropa tetap bersikeras bahwa keputusan harus dibuat oleh rakyat Greenland dan Denmark. Masa depan NATO bergantung pada kemampuan para anggota untuk menjaga persatuan dan keamanan bersama.***





Saat ini belum ada komentar