DPRD Surabaya Apresiasi Inovasi Pengelolaan Sampah: TPS RDF sebagai Solusi Berkelanjutan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pengelolaan sampah di kota-kota besar seperti Surabaya menjadi isu penting yang memerlukan solusi inovatif. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah dan masyarakat mulai bergerak untuk mengurangi dampak lingkungan dari penumpukan sampah. Salah satu upaya terbaru yang menarik perhatian adalah pengembangan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) RDF (Refuse Derived Fuel), yang bertujuan mengubah limbah menjadi bahan bakar alternatif.
Proses Pengolahan Sampah Menjadi Energi Alternatif
TPS RDF bekerja dengan cara mengolah sampah non-organik melalui proses pengeringan dan pemilahan. Bahan-bahan yang tidak dapat didaur ulang, seperti plastik dan kertas, diproses menjadi bahan bakar alternatif yang bisa digunakan oleh sektor industri. Proses ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga memberikan nilai ekonomi tambahan dari limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai.
Salah satu mitra utama dalam proyek ini adalah PT Semen Gresik, yang sedang menjajaki kemungkinan menggunakan RDF sebagai substitusi bahan bakar konvensional. Ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meningkatkan efisiensi energi secara keseluruhan.
Peran DPRD Surabaya dalam Mendukung Inovasi
Wakil Ketua DPRD Surabaya Laila Mufidah menyambut baik inisiatif Pemkot Surabaya dalam mengembangkan TPS RDF. Ia menilai bahwa inovasi ini merupakan langkah maju dalam menghadapi tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks. DPRD, kata Laila, akan terus mengawasi implementasi TPS RDF agar benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
Selain itu, anggaran sebesar Rp 30 miliar telah dialokasikan oleh Pemkot Surabaya bersama DPRD untuk mendukung operasional TPS RDF. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur, pelatihan tenaga kerja, serta koordinasi dengan industri pemanfaat.
Kondisi Pengelolaan Sampah di Kota Surabaya
Saat ini, volume sampah di Surabaya mencapai antara 1.600 hingga 1.800 ton per hari. Meskipun ada upaya pengelolaan sampah organik melalui program Kampung Zero Waste dan bank sampah, masih terdapat kendala dalam penerapan sistem yang optimal. Pengelolaan sampah yang belum terstruktur dengan baik menyebabkan proses pemilahan belum berjalan maksimal.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya Dedik Irianto menjelaskan bahwa saat ini kota memiliki 27 rumah kompos dan 12 TPS 3R yang aktif beroperasi. Selain itu, pihaknya juga sedang mengembangkan TPS RDF sebagai salah satu solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah.
Keberlanjutan dan Manfaat Jangka Panjang
Dengan hadirnya TPS RDF, Pemkot Surabaya berharap inovasi ini bisa menjadi model pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Selain mengurangi tekanan pada tempat pembuangan akhir, TPS RDF juga memberikan peluang baru bagi sektor industri untuk memanfaatkan energi alternatif. Hal ini sejalan dengan tujuan pemerintah daerah dalam mendorong keberlanjutan lingkungan dan ekonomi.
Namun, perlu adanya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk memastikan bahwa TPS RDF berjalan secara efektif dan berkelanjutan. Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah juga menjadi kunci sukses dalam menjalankan program ini.
Kesimpulan
Inovasi TPS RDF di Surabaya menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bisa menjadi peluang ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan. Dengan dukungan penuh dari DPRD dan alokasi anggaran yang memadai, TPS RDF berpotensi menjadi solusi yang layak ditiru oleh kota-kota lain di Indonesia. Namun, keberhasilannya bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dan kerja sama lintas sektor.

>

Saat ini belum ada komentar