Penolakan Jagal RPH Pegirian terhadap Rencana Relokasi ke Tambak Oso Wilangon
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 29 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Para jagal di Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian di Surabaya menunjukkan penolakan terhadap rencana pemindahan lokasi operasional mereka ke kawasan Tambak Oso Wilangon (TOW). Mereka mengkhawatirkan dampak negatif yang akan terjadi jika relokasi dilakukan, termasuk gangguan distribusi daging dan risiko keselamatan pekerja.
Alasan Utama Penolakan
Salah satu alasan utama yang disampaikan oleh para jagal adalah jarak antara RPH Pegirian dan TOW yang mencapai sekitar 14 kilometer. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 45 menit, yang dinilai dapat menghambat proses distribusi daging ke pasar-pasar tradisional di Surabaya. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan efisiensi dalam pengiriman produk hewan potong.
Selain itu, jalur menuju TOW dikenal sebagai “jalur tengkorak” karena sering terjadi kecelakaan. Para jagal merasa bahwa jalur tersebut tidak aman dan tidak layak digunakan untuk operasional harian RPH. Hal ini meningkatkan risiko bagi pekerja dan kendaraan yang digunakan dalam proses pengangkutan daging.
Aksi yang Ditetapkan
Untuk menyampaikan aspirasi mereka, para jagal telah menggalang tanda tangan terbuka yang akan disampaikan kepada Wali Kota Surabaya. Selain itu, mereka juga berencana melakukan aksi mogok kerja pada tanggal 12 hingga 15 Januari 2026. Sebagai simbol penolakan, mereka akan membawa 20 ekor sapi selama aksi tersebut.
“Kami para jagal, pekerja, dan pedagang di RPH akan membawa 20 ekor sapi sebagai simbol penolakan pemindahan RPH Pegirian ke Tambak Oso Wilangon,” ujar H. Jawat, selaku koordinator.
Harapan Pihak Terkait
Para jagal berharap pemerintah kota dapat mempertimbangkan aspirasi mereka serta dampak dari kebijakan relokasi terhadap distribusi pangan. Mereka menegaskan bahwa keputusan yang diambil harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan kelangsungan operasional RPH.
Reaksi dari DPRD Surabaya
Dalam rapat ketiga bersama DPRD Surabaya yang digelar pada 9 Desember 2025, para jagal menyampaikan penolakan mereka secara langsung. Namun, hingga akhir rapat, tidak tercapai kesepakatan. Para jagal memilih untuk walk out karena merasa aspirasi mereka belum mendapat kejelasan.
Dampak Jangka Panjang
Jika relokasi dilakukan, dampaknya bisa sangat signifikan terhadap bisnis dan kehidupan para jagal serta pedagang di sekitar RPH Pegirian. Proses distribusi daging yang lebih lambat dan risiko keselamatan yang tinggi bisa berdampak pada stabilitas pasokan daging di pasar tradisional. Selain itu, perubahan lokasi juga bisa memengaruhi pendapatan dan kesejahteraan para pekerja di RPH.
Tantangan yang Dihadapi
Para jagal menghadapi tantangan besar dalam upaya mereka untuk menyampaikan aspirasi dan mempertahankan posisi RPH Pegirian. Mereka harus menghadapi tekanan dari pihak pemerintah dan menghadapi kemungkinan konsekuensi dari aksi mogok kerja yang direncanakan.
Penolakan terhadap relokasi RPH Pegirian ke Tambak Oso Wilangon menunjukkan pentingnya melibatkan semua pihak dalam pengambilan keputusan. Diperlukan diskusi yang lebih luas dan transparan agar kebijakan yang diambil benar-benar bermanfaat bagi semua pihak, termasuk para jagal, pekerja, dan masyarakat yang bergantung pada distribusi daging dari RPH Pegirian. ***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar