Kemajuan Teknologi di Indonesia Dihambat oleh Pihak Asing?
DIAGRAMKOTA.COM – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa kemajuan industri teknologi di Indonesia sering kali tidak mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak asing. Menurutnya, ada kecenderungan global untuk membatasi kemunculan industri strategis di negara-negara berkembang—termasuk Indonesia—karena dinilai bisa mengganggu keseimbangan pasar atau kepentingan ekonomi global.
Hal ini disampaikan dalam sebuah pidato di kantor Bappenas pada Senin (19/10/2026), di mana Airlangga menyoroti bagaimana upaya nasional dalam pengembangan pesawat terbang komersial CN235 sempat mengalami kendala signifikan, meskipun secara teknis telah mencapai tahap terobosan penting.
Industri Pesawat Terbang: Kesempatan yang Diblokir oleh Dunia Luar
Pengembangan pesawat CN235 bukan sekadar proyek teknik, melainkan simbol ambisi besar Indonesia untuk menjadi produsen pesawat komersial skala menengah. Saat rencana diperluas hingga kapasitas 100 penumpang, dunia internasional justru bereaksi dengan ketidakpercayaan dan peringatan.
“Ketika kita ingin mendorong CN235 menjadi pesawat berkapasitas 100 penumpang, dunia kaget,” ujar Airlangga. Ia menambahkan bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) secara eksplisit menyatakan bahwa Indonesia sebaiknya tidak membangun industri pesawat terbang karena dianggap memiliki dampak sosial dan ekonomi yang terlalu besar bagi masyarakat lokal.
Menurutnya, klaim tersebut bertentangan dengan logika pembangunan berkelanjutan. Industri pesawat terbang bukan hanya soal produksi mesin, tetapi juga menciptakan rantai nilai yang luas—dari manufaktur, teknologi tinggi, hingga layanan purna jual dan pelatihan tenaga ahli.
Peluang Ekonomi dan Kebutuhan Global yang Tak Bisa Diabaikan
Airlangga menekankan bahwa pasar global saat ini sangat membutuhkan pesawat kelas menengah seperti yang direncanakan. Baik Airbus maupun Boeing menghadapi backlog pesanan yang mencapai hingga 10 tahun. Ini membuka celah besar bagi Indonesia untuk ikut serta dalam pemenuhan kebutuhan transportasi udara regional dan internasional.
“Dengan membangun pesawat 100 penumpang sendiri, kita tak hanya mengurangi ketergantungan impor, tapi juga menciptakan sumber pendapatan baru, lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat konektivitas antar wilayah,” tegasnya.
Dalam konteks lain, pesawat jenis ini sangat relevan untuk negara-negara kepulauan seperti Indonesia, yang memiliki ribuan pulau terpencil dan akses transportasi yang masih terbatas.
Langkah Strategis: Kolaborasi dengan Arm Ltd untuk Semikonduktor
Di luar sektor kedirgantaraan, pemerintah juga sedang mempercepat transformasi digital melalui pengembangan industri semikonduktor. Airlangga mengumumkan kolaborasi strategis dengan Arm Ltd, perusahaan desain chip ternama asal Inggris yang telah sukses membangun ekosistem semikonduktor di Malaysia dan Korea Selatan.
“Kami akan mendorong mesin pertumbuhan digitalisasi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan (AI). Ini adalah langkah pertama yang signifikan dalam kerja sama dengan Arm,” kata Airlangga dalam sidang pleno Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) pada 27 Agustus 2026.
Targetnya ambisius: dalam tiga tahun ke depan, sekitar 15.000 tenaga kerja profesional akan terlibat langsung dalam ekosistem semikonduktor yang sedang dibangun di Indonesia.
Tantangan dan Harapan: Membangun Kepercayaan Diri Industri Nasional
Airlangga menegaskan bahwa keberhasilan dalam proyek-proyek besar seperti ini tidak hanya bergantung pada dana atau teknologi, tetapi juga pada kepercayaan diri bangsa. “Jika Korea Selatan dan Malaysia bisa, mengapa Indonesia tidak?” tanya dia dengan tegas.
Ia menilai bahwa keberhasilan Indonesia di bidang teknologi bukanlah hal yang mustahil, selama ada komitmen politik, dukungan institusi, dan kemitraan strategis yang solid.
Melalui inisiatif-inisiatif ini, Indonesia berharap tidak hanya menjadi konsumen teknologi global, tetapi juga produsen inovasi yang mampu bersaing di kancah internasional.





















