Peran Indonesia dalam Konflik Timur Tengah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memberikan peringatan penting terkait strategi luar negeri yang harus diambil oleh pemerintah Indonesia. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa Indonesia tidak boleh terlibat dalam perselisihan antara negara-negara besar, termasuk Iran. Menurutnya, tindakan seperti ini tidak akan membawa keuntungan apa pun bagi negara.
Luhut menjelaskan bahwa prinsip non-blok dan non-alignment Indonesia harus tetap dipertahankan dengan baik. Ia menilai bahwa posisi ini sangat relevan dengan situasi geopolitik saat ini, terutama dalam menghadapi konflik di kawasan Timur Tengah.
“Kita jangan jadi ikut musuhan sama dia, ya nggak ada gunanya kan. Jadi sebagai non-alignment itu, non-blok itu memang Indonesia harus hati-hati menyusun strategi luar negerinya,” ujar Luhut dalam unggahan di akun Instagram pribadinya.
Perhatian terhadap Penutupan Selat Hormuz
Salah satu hal yang menjadi perhatian utama Luhut adalah potensi penutupan Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu jalur utama pasokan energi dunia, sehingga dampaknya langsung berdampak pada sektor ekonomi Indonesia. Ia mempertanyakan seberapa besar cadangan strategis energi Indonesia mampu bertahan jika jalur tersebut tertutup.
“Jika jalur tersebut tertutup akibat konflik, Luhut mempertanyakan sejauh mana cadangan strategis energi Indonesia mampu bertahan. Jadi, dia meminta agar rencana kontingensi segera disusun dengan matang untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan.”
Kekompakan Masyarakat Indonesia
Selain itu, Luhut juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tetap solid dan tidak terpecah belah oleh pemikiran ekstrem. Menurutnya, kekompakan warga negara adalah kunci agar pemerintah bisa fokus mengambil kebijakan proaktif.
Dukungan publik diperlukan agar pemerintah dapat bergerak cepat dalam menjaga ketahanan pangan, energi, hingga stabilitas keamanan dalam negeri di tengah tekanan global.
“Kita masyarakat Indonesia harus kompak untuk menghadapi ini semua. Jadi jangan ada yang berpikiran ekstrem ke sana ke sini. Kita harus bagaimana mendukung pemerintah,” paparnya.
Karakteristik Iran sebagai Bangsa Petarung
Lebih lanjut, Luhut meminta semua pihak mencermati sejarah Iran dalam konfliknya dengan Amerika Serikat dan Israel. Dia menyebut Iran sebagai bangsa petarung (fighters) yang memiliki rekam jejak tidak pernah dijajah selama ribuan tahun.
Karakter kuat bangsa Iran itulah yang menurut Luhut harus menjadi pertimbangan besar dalam memetakan kebijakan luar negeri. Dengan kekuatan mental dan sejarah tersebut, Indonesia dianggap perlu tetap berada di posisi yang netral.
“Kita harus kenal bangsa Iran ini. Bangsa Iran ini bangsa yang tidak pernah dijajah ribuan tahun dan kalau kita lihat sejarahnya ini bangsa ini fighters,” katanya.

Perspektif tentang Kekuatan Iran
Luhut menekankan bahwa Indonesia perlu memahami sifat dan karakteristik negara-negara besar dalam konteks geopolitik. Ia menilai bahwa tindakan yang terburu-buru atau terlalu berpihak pada satu pihak dapat berdampak negatif bagi stabilitas nasional.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, Luhut berharap pemerintah dan masyarakat Indonesia dapat bersama-sama menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional dalam menghadapi dinamika internasional.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar