BPBD Penanganan Cuaca Ekstrem di Jawa Timur, Perpanjangan Operasi Modifikasi Cuaca
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Cuaca ekstrem yang terjadi di Jawa Timur (Jatim) memicu langkah-langkah mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Salah satu upaya utama adalah perpanjangan operasi modifikasi cuaca (OMC) hingga akhir bulan Januari 2026. Langkah ini diambil sebagai respons atas ancaman cuaca buruk yang diprediksi akan berlangsung hingga Februari mendatang.
Tujuan dan Strategi OMC
Operasi modifikasi cuaca bertujuan untuk mengurangi dampak dari curah hujan tinggi dan kondisi cuaca ekstrem lainnya. Dalam hal ini, BPBD Jatim bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda untuk memantau perkembangan cuaca dan menentukan titik-titik penyemaian awan.
Menurut data BMKG, potensi curah hujan pada Januari 2026 diperkirakan mencapai 58 persen, sedangkan pada Februari sekitar 22 persen. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Jatim masih rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, dan tanah longsor.
Pelaksanaan OMC di Wilayah Jatim
Operasi modifikasi cuaca telah dimulai sejak 1 Januari 2026 dan telah dilakukan sebanyak tujuh sorti. Sasaran utamanya meliputi wilayah selatan Jatim, selatan Pulau Madura, serta beberapa titik di wilayah barat Jatim.
Sebelumnya, dalam bulan Desember 2025, OMC telah dilakukan sebanyak 50 sorti. Upaya ini dilakukan secara bertahap, dengan penyesuaian berdasarkan kondisi cuaca dan kebutuhan wilayah.
Mitigasi Bencana Hidrometeorologi
Selain OMC, BPBD Jatim juga melakukan berbagai upaya mitigasi lainnya. Beberapa di antaranya termasuk normalisasi sungai, pembersihan saluran air, serta penyiapan personel dan peralatan darurat. Selain itu, pelatihan dan peningkatan kapasitas masyarakat juga menjadi fokus utama dalam menghadapi bencana.
Gatot Soebroto, Kepala Pelaksana BPBD Jatim, menjelaskan bahwa langkah-langkah tersebut dilakukan atas arahan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. “Kami tetap berkomitmen untuk mengurangi risiko bencana dengan pendekatan proaktif,” ujarnya.
Data Bencana di Jatim Tahun 2025
Dalam laporan yang disampaikan, BPBD Jatim mencatat sebanyak 531 kejadian bencana sepanjang tahun 2025. Mayoritas kejadian berasal dari bencana hidrometeorologi, yaitu banjir, angin kencang, dan tanah longsor.
- Banjir: 149 kejadian
- Angin kencang: 147 kejadian
- Tanah longsor: 21 kejadian
Bencana-bencana ini umumnya disebabkan oleh cuaca ekstrem yang terjadi secara merata di seluruh wilayah Jatim.
Tanggung Jawab Bersama
Peran aktif dari pemerintah daerah, lembaga teknis, dan masyarakat sangat penting dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem. BPBD Jatim terus memperkuat kolaborasi dengan instansi terkait dan komunitas lokal untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi musim hujan yang panjang.
Dengan langkah-langkah yang telah diambil, diharapkan dapat mengurangi risiko bencana dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar