Waspada! Potensi Banjir Rob di Wilayah Pesisir Surabaya Akibat Fase Bulan Purnama
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Banjir rob, fenomena alam yang terjadi akibat pergerakan pasang surut air laut, kembali menjadi perhatian masyarakat pesisir Jawa Timur. Di tengah situasi ini, BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya memberikan peringatan dini mengenai potensi banjir rob yang diprediksi mencapai puncaknya pada 2 dan 3 Januari 2026. Fenomena ini dipengaruhi oleh fase bulan purnama yang memperkuat gaya gravitasi bulan terhadap permukaan laut.
Faktor Utama yang Memicu Banjir Rob
Menurut informasi dari BMKG Maritim Tanjung Perak, banjir rob bukanlah hasil dari hujan atau curah air yang tinggi, melainkan akibat pengaruh gravitasi bulan terhadap sistem pasang surut. Pada Januari 2026, fase bulan purnama akan terjadi pada 3 Januari pukul 17.02 WIB. Kondisi ini berpotensi meningkatkan ketinggian air laut secara signifikan, sehingga menyebabkan genangan di wilayah pesisir.
Koordinator Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak, Ady Hermanto, menjelaskan bahwa banjir rob memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan banjir biasa. Air rob mengandung kadar garam tinggi dan bersifat korosif, yang dapat merusak komponen logam pada kendaraan maupun bangunan. Ia menyarankan masyarakat untuk menghindari jalur yang tergenang dan mencari alternatif jalan agar tidak terganggu oleh kondisi ini.
Wilayah Terdampak Banjir Rob
Di Surabaya, beberapa kawasan pesisir sering kali menjadi tempat genangan rob. Antara lain adalah Krembangan, Pabean Cantian, Semampir, Kenjeran, Bulak, Gunung Anyar, dan Rungkut. Selain itu, wilayah terdampak juga meluas ke sepanjang pesisir utara Jawa Timur, seperti Tuban, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, hingga Probolinggo.
Ady menegaskan bahwa meskipun kondisi banjir rob kali ini tidak berbeda secara signifikan dengan tahun-tahun sebelumnya, waktu kejadian lebih dominan terjadi pada malam hari. Diperkirakan, ketinggian pasang maksimum pada periode 2–3 Januari 2026 mencapai sekitar 140 sentimeter dari permukaan laut. Genangan di daratan bisa mencapai lebih dari 30 sentimeter, yang berpotensi memburuk jika terjadi bersamaan dengan hujan deras.
Langkah Mitigasi yang Dilakukan
BMKG Maritim Tanjung Perak telah mengimbau warga untuk tetap waspada dan mengambil langkah-langkah mitigasi. Salah satunya adalah bagi pemilik tambak yang diminta untuk segera meninggikan tanggul guna mencegah luapan air laut. Sementara itu, pelaku aktivitas bongkar muat di pelabuhan diminta mengantisipasi gangguan operasional akibat pasang tinggi.
Meski banjir rob umumnya hanya berlangsung dua hingga tiga jam setiap harinya, BMKG tetap bersiaga 24 jam untuk memberikan pembaruan informasi dan peringatan dini. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak panik, dan memantau informasi resmi dari BMKG agar keselamatan serta kerugian materiil dapat diminimalkan.
Dampak Jangka Panjang dan Kesiapan Masyarakat
Selain efek sementara, banjir rob juga memiliki dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan infrastruktur. Penurunan daratan dan hilangnya mangrove di sekitar pesisir menjadi faktor utama yang memperparah risiko banjir rob. Pakar lingkungan menyatakan bahwa penanganan yang tepat dan konsisten diperlukan untuk mengurangi ancaman ini.
Masyarakat pesisir diimbau untuk tetap memperhatikan informasi cuaca dan ikut serta dalam upaya pencegahan. Dengan kesadaran dan persiapan yang baik, potensi kerugian dari banjir rob dapat diminimalisir, sehingga kehidupan masyarakat tetap stabil meski menghadapi tantangan alam. ***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar