Intisari Berita:
- Pemkot Surabaya menggelar Puspaga “Goes to Kampung Pancasila” di Kantor Kecamatan Bulak untuk layanan konsultasi keluarga dan parenting gratis.
- Ketua TP PKK Surabaya Rini Indriyani menekankan kolaborasi ayah dan ibu serta pola asuh ramah guna mencegah anak terjerat geng motor dan aksi anarkis.
- Kecamatan Bulak mengintegrasikan layanan Puspaga dengan siskamling, jam malam Satpol PP, santunan lansia-yatim, hingga pemantauan stunting di Balai RW.
DIAGRAMKOTA.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperluas jangkauan layanan edukasi pengasuhan anak dan ketahanan keluarga hingga ke tingkat kewilayahan. Melalui program Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) bertajuk “Goes to Kampung Pancasila”, Pemkot Surabaya membuka posko konsultasi psikologi dan keluarga gratis yang dipusatkan di Kantor Kecamatan Bulak pada Rabu (14/10/2026) siang.
Agenda jemput bola ini memfasilitasi warga setempat untuk berkonsultasi langsung dengan tim psikolog profesional mengenai problematika rumah tangga, relasi antaranggota keluarga, hingga tata cara pengasuhan (parenting) yang ramah anak. Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, bersama jajaran perangkat daerah lintas sektor.
Sinergi pelayanan melibatkan Dinas Sosial (Dinsos), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB), Dinas Pendidikan (Dispendik), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip), himpunan psikolog klinis, serta segenap pemangku kepentingan masyarakat di kawasan pesisir utara Surabaya tersebut.
Keluarga Pondasi Utama Karakter: Kolaborasi Ayah dan Ibu Sangat Krusial
Dalam arahannya di hadapan para orang tua, Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, menegaskan bahwa kehangatan rumah tangga merupakan benteng paling mendasar dalam membentuk kepribadian dan akhlak seorang anak. Keterlibatan aktif kedua orang tua — baik ayah maupun ibu — serta komunikasi yang dua arah dinilai menjadi kunci utama memproteksi generasi muda dari jebakan kenakalan remaja, seperti fenomena geng motor maupun keterlibatan dalam aksi kerusuhan anarkis.
“Ketika kita mempunyai seorang anak, kita memiliki kewajiban untuk bisa mendidik dia. Itu bukan hanya tugasnya seorang ibu tapi juga seorang ayah, karena untuk mendidik anak itu harus kolaborasi,” tutur Bunda Rini, sapaan akrabnya.
Rini menguraikan bahwa minimnya ruang dialog dan apresiasi di dalam rumah kerap menjadi pemantik utama bagi anak usia sekolah — mulai tingkatan SD, SMP, hingga SMA — mencari pelarian emosional di luar rumah tanpa kendali. Oleh sebab itu, pola asuh yang responsif dan penuh empati wajib dibangun sejak masa kanak-kanak.
“Untuk menjadi orang tua itu harus terus belajar dan belajar. Melalui Puspaga ini kita belajar bareng untuk menjadi ibu yang lebih erat, lebih asik,” imbuhnya.
Menurutnya, orang tua modern dituntut mampu memosisikan diri sebagai sahabat terbaik tempat anak menumpahkan keluh kesah. Melalui pendekatan yang bersahabat tanpa bersikap otoriter, pengawasan terhadap pergaulan anak dapat tetap berjalan optimal tanpa memicu rasa terkekang pada diri anak.
Pemkot Surabaya: Tekan KDRT dan Kenakalan Jam Malam via Pilar Kampung Pancasila
Camat Bulak, Hudaya, menyambut positif penetrasi layanan Puspaga di wilayahnya. Kehadiran ruang konsultasi ini diyakini mampu meningkatkan ketahanan keluarga secara menyeluruh serta membekali para orang tua dengan pemahaman psikologis dalam menghadapi dinamika emosional anak remaja.
Hudaya memaparkan, penguatan fungsi keluarga lewat Puspaga berkorelasi langsung dalam mereduksi angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), sekaligus menekan kasus anak-anak yang kerap terjaring razia jam malam oleh Satpol PP Kota Surabaya.
“Dalam pilar lingkungan di Kampung Pancasila, alhamdulillah RW kami sudah aktif dalam menjaga siskamling. Dalam hal menjaga ketertiban dan keamanan kami juga bersama Babinsa maupun Bhabinkamtibmas,” urai Hudaya.
Solidaritas Komunal: Pantau Stunting dan Lindungi Lansia di Balai RW
Pada pilar kemasyarakatan Kampung Pancasila, pihak Kecamatan Bulak terus menggalang kepedulian sosial warga untuk saling menguatkan. Berbagai program santunan swadaya digulirkan secara rutin bersama pengurus RW guna menyantuni anak yatim, memfasilitasi anak putus sekolah, hingga menjamin kelayakan hidup para lansia sebatang kara.
Balai RW diaktifkan sebagai pos komando pemantauan dini terhadap risiko sosial dan kesehatan masyarakat, mulai dari intervensi balita stunting hingga deteksi kehamilan berisiko tinggi (resti).
“Setiap bulan kami bersama RW memberikan santunan-santunan tersebut. Melalui Balai RW kami juga memantau balita stuntingnya, ibu hamil risiko tinggi, permasalahan-permasalahan di masyarakat, sehingga permasalahan bisa cepat kita cegah. Melalui Puspaga ini juga bisa lebih cepat kita tangani,” pungkas Hudaya.
