DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap koleksi pusaka Nusantara, persoalan hilangnya riwayat dan identitas keris masih menjadi tantangan besar. Banyak keris diwariskan secara turun-temurun tanpa disertai catatan yang memadai mengenai asal-usul maupun nilai sejarah yang dimilikinya.
Kondisi tersebut mendorong Ethnic Indonesia menghadirkan Keris Curatorial & Certification Service, sebuah layanan kajian dan sertifikasi kuratorial yang berfokus pada pendokumentasian identitas pusaka secara profesional dan terstruktur.
Layanan ini tidak hanya ditujukan bagi kolektor keris, tetapi juga keluarga pewaris pusaka, museum, komunitas budaya, hingga masyarakat yang ingin memastikan warisan budaya yang dimiliki tetap memiliki jejak sejarah yang jelas.
Pendiri Ethnic Indonesia, KRA Rivo Cahyono, menilai banyak informasi penting mengenai sebuah keris yang berpotensi hilang seiring pergantian generasi. Ketika pemilik awal meninggal dunia, tidak sedikit cerita, filosofi, maupun latar belakang pusaka yang ikut lenyap karena tidak pernah dicatat secara resmi.
“Bagi Ethnic Indonesia, sertifikasi bukan sekadar menerbitkan dokumen. Lebih dari itu, sertifikasi adalah upaya menyelamatkan pengetahuan, menjaga sejarah, dan memastikan bahwa cerita di balik sebuah pusaka tetap hidup untuk generasi yang akan datang,” ujarnya, Sabtu (18/7/2026).
Menurutnya, nilai sebuah keris tidak semata-mata terletak pada keindahan bilah atau usia pembuatannya. Identitas seperti tangguh, dhapur, pamor, ricikan hingga sejarah kepemilikannya menjadi bagian penting yang membentuk nilai budaya sebuah pusaka.
Melalui proses kuratorial, berbagai aspek tersebut dikaji secara mendalam, diverifikasi, kemudian didokumentasikan agar menjadi referensi yang dapat dipertanggungjawabkan di masa mendatang.
Proses kajian dilakukan oleh tiga Kurator Keris Bersertifikat BNSP yang memiliki kompetensi di bidang perkerisan dan pelestarian budaya, yakni Ilham Triadi, Harjo Herlambang, dan KRA Rivo Cahyono.
Ilham Triadi yang juga merupakan Asesor dan Kurator Keris LSP Perkerisan Indonesia serta Ahli Cagar Budaya terlibat dalam proses kajian yang berkaitan dengan aspek sejarah dan warisan budaya Nusantara.
Sementara itu, Harjo Herlambang berperan dalam identifikasi dan autentikasi keris melalui pendekatan kuratorial untuk memastikan karakteristik pusaka dapat dikenali secara tepat.
Tim kurator juga diperkuat KRA Rivo Cahyono yang selama lebih dari satu dekade aktif mengedukasi masyarakat melalui Ethnic Indonesia Channel serta berbagai program pelestarian budaya Nusantara.
“Kolaborasi ketiganya menghadirkan proses kajian yang objektif, independen, dan bertanggung jawab,” kata Rivo.
Ethnic Indonesia menegaskan bahwa sertifikasi kuratorial bukan ditujukan sebagai instrumen untuk meningkatkan nilai jual keris. “Sertifikat merupakan bentuk dokumentasi profesional yang menjelaskan identitas pusaka, mulai dari aspek keaslian, tangguh, dhapur, pamor, ricikan, warangka, hingga nilai sejarah dan budayanya,” jelasnya.
Ia menambahkan, dokumentasi tersebut menjadi bekal penting agar informasi mengenai sebuah pusaka tidak hilang ketika berpindah tangan atau diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan merawat fisik pusaka. Yang jauh lebih penting adalah menjaga pengetahuan yang terkandung di dalamnya,” pungkas Rivo. (UMM)




















