Surabaya, Diagramkota.com – Malam jumat Kliwon, bau harum kemenyan dan semerbak kembang setaman mulai lamat-lamat tercium saat memasuki gapura pesarean Eyang Kudo Kardono. Menapaki pelataran menuju makam Eyang semakin jelas aroma khas dupa peziarah.
Melewati joglo, tampak beberapa peziarah dari berbagai daerah jagongan tersenyum menyapa ramah,”Asalamualaikum, Rahayu,” kepada semua peziarah yang baru datang.
Malam ini bukan malam biasa bagi masyarakat Jawa. Kalender menunjukkan hari Kamis Wage, yang berarti beberapa jam ke depan, bumi akan memasuki waktu yang paling legendaris sekaligus disakralkan: Malam Jumat Kliwon.
Bagi sebagian besar masyarakat modern, malam Jumat Kliwon mungkin identik dengan bulu kuduk yang merinding, film horor, atau cerita seram pengantar tidur.
Namun, di sebuah pesarean (makam keramat) yang terletak di tengah kota, malam ini justru menjadi malam yang paling sibuk sekaligus hening.
Didalam makam, seorang pria paruh baya dengan gurat wajah menggambarkan pengalaman hidup, tampak sibuk mempersilahkan peziarah untuk mengisi buku tamu.
Beliau adalah Bopo Sumali, pria berusia 83 tahun yang sudah mendedikasikan hidupnya sebagai Juru Kunci di pesarean tersebut.
Antara Doa dan Salah Kaprah
Sambil membetulkan letak blangkonnya, Bopo Sumali tersenyum tipis saat ditanya mengapa malam Jumat Kliwon selalu dianggap menyeramkan.
Menurutnya, ada pergeseran makna yang cukup jauh antara apa yang dipahami masyarakat zaman dulu dengan generasi pop culture hari ini.
“Orang sekarang itu tahunya Jumat Kliwon ya hantu, ya pesugihan. Padahal filosofi aslinya tidak begitu. Jumat itu rajanya hari (dalam Islam sayyidul ayyam), dan Kliwon itu puncak pasaran Jawa. Ini adalah waktu di mana energi alam semesta sedang tinggi-tingginya,” ujar Sumali dengan suara berat dan tenang.
Senada, sesepuh pesarean Bopo Harry Soeparmanto, menjelaskan bahwa tingginya energi pada malam Jumat Kliwon membuat pembatas antara dunia fisik dan dunia spiritual menjadi sangat tipis.
Oleh karena itu, para leluhur Jawa kuno memanfaatkan momentum ini untuk laku prihatin—mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui doa, wirid, meditasi, atau berziarah kubur untuk mengingat kematian.
“Karena energinya besar, kalau dipakai untuk berdoa atau meminta kebaikan kepada Gusti Allah, rasanya lebih khusyuk. Tapi salahnya, sebagian orang malah memanfaatkan energi ini untuk hal-hal yang menyimpang, seperti mencari nomor (judi) atau pesugihan. Itu yang bikin citranya jadi mistis dan negatif,” bebernya.
Merawat Tradisi di Tengah Modernisasi
Malam semakin larut, namun peziarah justru semakin ramai berdatangan. Mereka duduk bersila di selasar pendopo makam, menundukkan kepala, dan merapalkan doa-doa keselamatan.
Sebagai sesepuh pesarean, tugas Bopo Soeparman bukan hanya sekadar menjaga kelestarian fisik makam, melainkan juga menjaga “laku” dan meluruskan niat para peziarah yang datang.
Tak jarang, beliau harus menegur peziarah yang kedapatan memiliki niat yang melenceng dari syariat agama dan tuntunan adat.
Bagi Bopo Soeparman, malam Jumat Kliwon adalah pengingat. Di tengah gempuran modernisasi kota yang serba cepat, pesarean dan malam sakral ini menjadi ruang jeda bagi manusia untuk kembali menengok ke dalam diri.
“Jumat Kliwon itu seumpama kaca benggala (cermin). Apa yang kamu bawa dari dalam hatimu, itu yang akan dipantulkan oleh alam. Kalau hatimu bersih datang ke sini untuk mendoakan leluhur, kamu pulang bawa ketenangan. Tapi kalau hatimu kosong dan penuh ketakutan, ya bayanganmu sendiri yang akan menakuti dirimu,” pungkasnya menutup obrolan malam itu, bersiap menunggu peziarah berikutnya.***













