Saham BBCA Melemah, Tapi Masih Menarik Perhatian Investor
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA mengalami penurunan sebesar 1,81% pada akhir perdagangan Kamis (4/6/2026), dengan harga penutupan di level Rp 5.425. Penurunan ini terjadi karena aksi jual dari investor asing yang signifikan.
Pada hari tersebut, sebanyak 550,06 juta saham BBCA diperdagangkan dengan frekuensi transaksi sebanyak 82.292 kali dan nilai total transaksi mencapai Rp 2,96 triliun. Dalam laporan transaksi, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 463,67 miliar di saham BBCA.
Meski demikian, secara valuasi, saham BBCA masih tergolong terdiskon besar dibandingkan biasanya. Berdasarkan data aplikasi Stockbit Sekuritas, rasio price to book value (PBV) BBCA berada pada 2,58 kali, yang lebih rendah dari -2 PBV standard deviation BBCA dalam tiga tahun terakhir yaitu 2,93 kali.
Selain itu, price earning ratio (PER) BBCA juga tercatat pada 11,52 kali (TTM), yang lebih rendah dari -2 PE standard deviation BBCA pada 13,71 kali. Hal ini menunjukkan bahwa saham BBCA saat ini sedang dalam posisi yang relatif murah.
CGS International Sekuritas meramalkan tingkat support dan resistance untuk saham BBCA. Support pertama diperkirakan berada di level 5.283, sementara support kedua di 5.142. Di sisi lain, resistance pertama berada di 5.583 dan resistance kedua di 5.742.
Arah pergerakan saham BBCA akan sangat dipengaruhi oleh kinerja fundamental perseroan. BCA memiliki profil profitabilitas yang kuat, kualitas aset yang terjaga, likuiditas yang solid, serta basis dana murah yang besar.
Sentimen positif juga datang dari rencana pembagian dividen interim sebanyak tiga kali pada 2026. BCA menyatakan bahwa rencana ini menjadi bagian dari komitmen perseroan untuk memberikan nilai tambah kepada pemegang saham, khususnya investor ritel.
“Setelah tekanan MSCI selesai, investor akan kembali melihat kualitas emiten. Untuk BBCA, faktor yang akan diperhatikan adalah pertumbuhan laba, kualitas kredit, dana murah, dan dividen. Jadi kalau fundamental tetap kuat, koreksi akibat rebalancing bisa dilihat sebagai tekanan sementara,” ujar Jonathan Gunawan, Analis Saham Trimegah Sekuritas.***

>

Saat ini belum ada komentar