Perubahan Sistem Parkir di Surabaya: Penggantian 389 Jukir yang Menolak Digitalisasi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mempercepat implementasi sistem parkir digital sebagai bagian dari upaya modernisasi layanan transportasi. Salah satu langkah signifikan adalah penggantian sebanyak 389 juru parkir (jukir) yang menolak penerapan pembayaran non-tunai. Proses ini dilakukan setelah para petugas tersebut tidak memperpanjang Kartu Tanda Anggota (KTA) meski telah diimbau melalui sosialisasi sejak Januari 2026.
Penyebab Penggantian Jukir
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya, Trio Wahyu Bowo, keputusan untuk mengganti 389 jukir ini diambil setelah mereka tidak merespons ajakan perpanjangan KTA. Pihak dinas telah melakukan sosialisasi secara masif, namun sebagian besar jukir tetap menolak.
“Terdapat kurang lebih 389 jukir yang tidak mau memperpanjang KTA-nya. Kami sudah sosialisasikan gencar, tapi mereka tetap enggan untuk memperpanjang atau memvalidasi kartu tanda anggotanya,” ujar Trio.
Proses penggantian ini dilakukan setelah pihak dinas memberikan waktu selama lima bulan, mulai dari Januari hingga Mei 2026. Setelah masa evaluasi berakhir, para jukir yang tidak bersedia beradaptasi dengan sistem baru dinyatakan tidak layak lagi menjadi petugas parkir.
Persiapan Sistem Parkir Digital
Saat ini, Pemkot Surabaya tengah mencari petugas parkir baru untuk menggantikan posisi 389 orang yang telah dicopot. Proses rekrutmen akan dilakukan melalui seleksi ketat agar dapat memenuhi standar kualifikasi yang ditetapkan.
Selain itu, sistem pembayaran parkir digital akan diberlakukan secara penuh pada Mei 2026. Pemkot juga sedang mempersiapkan penggunaan voucher parkir sebagai alternatif pembayaran.
“Kami sudah berkoordinasi dengan tokoh parkir maupun dengan Paguyuban Jukir Surabaya (PJS) terkait voucher parkir. Saya berterima kasih kepada warga yang antusias mendukung digitalisasi parkir,” tambah Trio.
Dampak Terhadap Masyarakat
Digitalisasi sistem parkir diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam pengelolaan parkir. Namun, proses ini juga menimbulkan tantangan bagi para jukir yang tidak siap mengadopsi teknologi.
Beberapa jukir yang menolak sistem baru mengungkapkan bahwa mereka merasa kesulitan beradaptasi dengan perubahan. “Saya tidak bisa menggunakan aplikasi dan tidak percaya dengan sistem digital,” ujar salah satu jukir yang tidak bersedia disebutkan namanya.
Namun, sebagian besar warga Surabaya menyambut baik inisiatif ini. Mereka berharap sistem baru dapat mengurangi praktik korupsi dan penipuan yang sering terjadi dalam sistem pembayaran tunai.
Tantangan dan Harapan
Meski ada resistensi dari sejumlah jukir, pihak Pemkot Surabaya tetap optimis bahwa digitalisasi akan membawa manfaat jangka panjang. Selain itu, pihak dinas juga berkomitmen untuk memberikan pelatihan dan bantuan teknis kepada jukir yang ingin beradaptasi dengan sistem baru.
Dengan adanya perubahan ini, diharapkan Surabaya dapat menjadi contoh daerah lain dalam menerapkan inovasi teknologi untuk meningkatkan kualitas layanan publik.***

>
>

Saat ini belum ada komentar