Kampung Kue Rungkut: Inisiatif Pemberdayaan Perempuan di Tengah Tantangan Ekonomi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah dinamika ekonomi yang sering kali mengancam kesejahteraan masyarakat, kampung-kampung kecil sering menjadi tempat lahirnya inisiatif-inisiatif kreatif. Salah satunya adalah Kampung Kue Rungkut di Surabaya, Jawa Timur, yang telah menjadi wadah pemberdayaan perempuan sejak 2005. Berawal dari kebutuhan untuk menciptakan peluang kerja, kampung ini kini menjadi model sukses dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya perempuan.
Sejarah dan Latar Belakang
Kampung Kue Rungkut berada di Jalan Rungkut Lor Gang II, Kelurahan Kali Rungkut, Surabaya. Lokasinya yang strategis membuatnya menjadi sentra jajanan pasar yang aktif sejak dini hari. Setiap pagi, warga mulai memproduksi berbagai jenis kue tradisional seperti lemper, risoles, pastel, kue lapis, hingga brownies dan camilan modern. Produksi dimulai sekitar pukul 03.00 WIB dan berakhir sebelum pukul 09.00 WIB.
Pendiri Kampung Kue, Choirul Mahpuduah atau lebih akrab disapa Irul, memiliki latar belakang sebagai aktivis buruh yang pernah memperjuangkan hak-hak pekerja perempuan. Pengalamannya tersebut membentuk visinya tentang pentingnya kemandirian ekonomi, terutama bagi perempuan. Ia menyadari bahwa banyak ibu-ibu di lingkungan sekitarnya kesulitan mencari pekerjaan setelah mengalami PHK akibat krisis ekonomi tahun 1998.
Awal Mula Kampung Kue
Awalnya, Irul hanya melakukan hal sederhana, yakni mengumpulkan resep dari kliping koran dan membagikannya kepada warga sebagai bahan belajar bersama. Ia juga membentuk unit simpan pinjam dengan modal Rp150.000 untuk membantu permodalan warga. Dari sana, koperasi pekerja rumahan berkembang, yang kemudian diperkuat dengan pelatihan, akses bahan baku, serta dukungan pemasaran dan digitalisasi.
“Saya tidak bisa jalan sendiri, jadi harus menggandeng banyak pihak supaya ibu-ibu bisa berkembang,” ujarnya.
Perkembangan dan Dampak Ekonomi
Saat ini, Kampung Kue Rungkut memiliki 68 pelaku usaha yang memproduksi lebih dari 70 jenis kue dengan harga terjangkau. Produk tidak hanya dijual langsung kepada masyarakat, tetapi juga melayani pesanan rutin dan distribusi lebih luas. Omzet Kampung Kue saat ini berkisar antara Rp10 juta hingga Rp15 juta per bulan, menjadikan usaha kue sebagai sumber penghasilan utama bagi sebagian besar pelaku.
“Ibu-ibu yang awalnya hanya mengandalkan tambahan uang sekolah anak, kini sudah bisa mengandalkan usaha sendiri sebagai penghasilan utama. Dengan punya usaha sendiri, kita lebih dihargai, kita lebih punya harga diri, kita lebih bermartabat,” kata Irul.
Peran Pemerintah dan Pengakuan Nasional
Pada 2022, Pemerintah Kota Surabaya menetapkan kawasan tersebut sebagai Kampung Wisata Kue dan Kampung Wisata Edukasi. Selain dikenal sebagai pusat kuliner tradisional, Kampung Kue Rungkut juga menjadi model pemberdayaan masyarakat di Surabaya.
Kehadiran kampung ini tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kemandirian dan kolaborasi dalam membangun perekonomian lokal.
Masa Depan Kampung Kue
Dengan kontribusi yang signifikan terhadap pemberdayaan perempuan dan perekonomian lokal, Kampung Kue Rungkut menjadi contoh nyata bahwa inisiatif komunitas dapat menjadi motor penggerak perubahan. Di masa depan, kampung ini diharapkan terus berkembang, baik dalam hal produksi, pemasaran, maupun pengembangan produk yang lebih inovatif.
Selain itu, penguatan kerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku bisnis akan semakin memperkuat posisi Kampung Kue Rungkut sebagai salah satu ikon pemberdayaan perempuan di Surabaya. ***

>

Saat ini belum ada komentar