DPRD Surabaya Soroti TPS Overkapasitas: Perlu Solusi Terpadu dan Inovatif
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM –Â Peningkatan volume sampah di Kota Surabaya menjadi perhatian serius dari DPRD setempat. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kemampuan sistem pengelolaan sampah yang ada, terutama mengingat peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi yang berdampak pada peningkatan limbah.
Masalah Utama dalam Pengelolaan Sampah
Salah satu isu utama yang muncul adalah overkapasitas Tempat Penampungan Sementara (TPS). Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, menjelaskan bahwa selain volume sampah yang meningkat, jenis sampah berat juga menjadi tantangan tersendiri. Sampah berat seperti kasur, kursi bekas, dan perabot rumah tangga lainnya membutuhkan penanganan khusus karena tidak dapat dikelola dengan cara biasa.
“Untuk sampah yang membutuhkan usaha lebih seperti kasur, kursi bekas, dan sejenisnya, dinas perlu membuat formula khusus agar memudahkan masyarakat dalam membuangnya,” ujarnya.
Fathoni menekankan bahwa istilah “sampah berat” tidak hanya merujuk pada bobot, tetapi juga pada jenis limbah yang memerlukan proses pengolahan khusus. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah saat ini belum sepenuhnya siap menghadapi kompleksitas jenis limbah yang semakin beragam.
Solusi yang Ditawarkan oleh DPRD
Sebagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut, DPRD Surabaya mengusulkan penerapan skema retribusi khusus untuk jenis sampah tertentu. Menurut Fathoni, kebijakan ini bisa memberikan kepastian dan kemudahan bagi warga dalam membuang sampah, sehingga mengurangi tindakan membuang sampah sembarangan.
“Dengan adanya skema ini, masyarakat memiliki opsi yang jelas sehingga tidak lagi membuang sampah sembarangan, seperti ke sungai atau lokasi yang tidak semestinya,” tambahnya.
Selain itu, DPRD juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap sampah yang berasal dari sektor usaha. Fathoni menilai peran pengawasan harus diperkuat, khususnya oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), agar pengelolaan limbah usaha sesuai dengan perizinan yang berlaku.
Pentingnya Pendekatan Humanis dalam Pengawasan
Meski demikian, Fathoni menekankan bahwa pendekatan pengawasan tetap harus mengedepankan aspek humanis melalui sosialisasi yang intensif kepada pelaku usaha. Ia menilai bahwa kesadaran masyarakat dan pelaku usaha akan pentingnya pengelolaan sampah secara benar sangat krusial dalam mengurangi beban TPS dan TPA.
“Pendekatan humanis penting agar kesadaran meningkat, sehingga volume sampah yang masuk ke TPS dan TPA bisa ditekan sejak dari sumbernya,” imbuhnya.
Peremajaan Armada Pengangkut Sampah
Di sisi lain, DPRD juga menyoroti kondisi armada pengangkut sampah milik pemerintah kota yang dinilai perlu segera diremajakan. Sejumlah kendaraan disebut telah berusia tua dan tidak lagi optimal dalam operasional. Fathoni menyatakan bahwa peremajaan armada penting untuk mencegah sampah tercecer dan menjaga estetika kota.
“Perlu ada peremajaan armada, khususnya kendaraan yang usianya di atas 15 tahun, agar tidak ada lagi sampah tercecer dan estetika kota tetap terjaga,” katanya.
Ia juga menyarankan agar peremajaan armada dilakukan dengan mempertimbangkan aspek ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah kota dalam mengurangi emisi dan mendorong penggunaan kendaraan non-bahan bakar fosil.
Kolaborasi dengan Pihak Ketiga
Fathoni menambahkan bahwa peluang kerja sama dengan pihak ketiga terbuka sebagai alternatif untuk menghadirkan armada pengangkut sampah berbasis energi bersih. Ia menyatakan bahwa sudah banyak pihak ketiga yang memiliki armada non-bahan bakar fosil, yang bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari solusi ke depan.
Masa Depan Pengelolaan Sampah di Surabaya
Sebagai kota yang telah dikenal dengan inovasi pengelolaan sampah menjadi energi, Surabaya dinilai perlu terus beradaptasi menghadapi tantangan baru, termasuk peningkatan volume dan kompleksitas jenis sampah.
Fathoni menegaskan bahwa penguatan sistem pengelolaan dari hulu ke hilir juga harus terus didorong, termasuk melalui pemilahan sampah di tingkat RW. Ia percaya bahwa jika pemilahan sampah di tingkat warga berjalan selaras dengan kesadaran pelaku usaha, maka pengelolaan sampah di Surabaya akan semakin optimal.
“Jika pemilahan sampah di tingkat warga berjalan selaras dengan kesadaran pelaku usaha, maka pengelolaan sampah di Surabaya akan semakin optimal,” pungkasnya.***

>
>
Saat ini belum ada komentar