Dinamika Politik Israel dan Peran Konflik dengan Iran
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Konflik antara Israel dan Iran saat ini menjadi salah satu faktor utama yang memengaruui dinamika politik dalam negeri. Banyak analis mengatakan bahwa arah dan durasi perang ini sangat berpengaruh terhadap situasi politik di Israel. Salah satu isu yang menarik perhatian adalah dugaan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sengaja melancarkan serangan ke Iran sebelum tenggat waktu 30 Maret, untuk menunda pengesahan anggaran negara yang sulit mendapatkan dukungan mayoritas di parlemen.
Jika anggaran tersebut tidak disahkan, pemerintahan Netanyahu akan jatuh pada 1 April, dan Israel harus menggelar pemilihan umum lebih cepat. Dalam situasi ini, Netanyahu dianggap akan memasuki masa kampanye dari posisi politik yang lemah.
Popularitas yang Tergerus oleh Perang Gaza
Popularitas Netanyahu merosot tajam setelah perang di Gaza yang dimulai akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Serangan tersebut merupakan hari paling mematikan dalam sejarah Israel. Para kritikus menuduh ia gagal mencegah serangan tersebut dan mencoba menghindari tanggung jawab atas kegagalan tersebut.
Sebagai perdana menteri terlama dalam sejarah Israel dengan total masa jabatan lebih dari 18 tahun, Netanyahu mulai kehilangan mayoritas parlemen sejak pertengahan 2025 akibat krisis politik dengan sekutu ultra-Ortodoksnya. Di tengah tekanan politik, ia juga masih menjalani persidangan kasus korupsi yang telah berlangsung lama. Bahkan, ia dilaporkan meminta ampunan kepada Presiden Israel, Isaac Herzog.
Upaya Pulihkan Citra Lewat Perang Iran
Netanyahu mencoba memperbaiki citranya dengan memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat. Setelah dilaporkan adanya serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran, ia menegaskan bahwa kedekatannya dengan Washington memainkan peran penting dalam operasi tersebut. Ia menyebut hubungan eratnya dengan AS memungkinkan Israel melakukan hal yang telah lama diinginkannya selama lebih dari 40 tahun, yakni melancarkan serangan besar terhadap Iran.
Analis politik dari Tel Aviv University, Emmanuel Navon, menilai bahwa Netanyahu kemungkinan besar akan mempercepat jadwal pemilu. “Sudah jelas. Dia tidak akan menunggu sampai Oktober mengingat peringatan 7 Oktober,” ujarnya kepada AFP, Selasa (3/3/2026). Menurutnya, posisi politik Netanyahu yang sempat berada di titik terendah kini berangsur membaik.
Kemenangan atas Iran dan Kalkulasi Politik
Serangkaian pukulan militer Israel terhadap Hamas, Hizbullah, dan Iran sejak dimulainya perang Gaza membuat Partai Likud diperkirakan unggul apabila pemilu digelar dalam waktu dekat. Namun, partai tersebut masih berpotensi kekurangan mayoritas bersama sekutu-sekutunya saat ini.
Analis geopolitik independen Michael Horowitz mengatakan bahwa serangan terhadap Iran memperkuat citra yang ingin dibangun Netanyahu. “Serangan ini tak dapat disangkal memperkuat citra yang ingin dipupuk Netanyahu, citra yang terkait dengan slogan ‘kemenangan total’-nya,” ujarnya. Ia menambahkan, “Netanyahu ingin menunjukkan bahwa ini bukan slogan kampanye, tetapi kenyataan. Ini adalah agenda nasionalnya dan strategi pemilunya.”
Tantangan dan Risiko yang Menghadang
Meski ada harapan bahwa kemenangan atas Iran bisa mengubah kalkulasi politik, tidak semua pihak sepakat bahwa serangan ke Iran akan otomatis menguntungkan Netanyahu. Jurnalis Channel 13, Raviv Druker, berpendapat bahwa Netanyahu akan mencoba meyakinkan orang-orang bahwa kemenangan itu total meskipun hanya ilusi, sembari menekankan bahwa “Hamas masih menguasai Gaza, dan Iran tetaplah Iran bahkan setelah serangan Sabtu (28/2/2026).”
Di situs berita Walla, jurnalis Ouriel Deskal bahkan menilai waktu pecahnya konflik bisa berkaitan dengan tenggat politik domestik. Ia menyebut Netanyahu mungkin sengaja memilih waktu perang untuk secara otomatis menunda—di bawah keadaan darurat—tenggat waktu 30 Maret untuk mengesahkan anggaran yang sulit ia dapatkan dukungannya di parlemen.
Risiko Perang Berkepanjangan
Meski ada potensi kemenangan politik bagi Netanyahu, risiko tetap ada jika konflik berkepanjangan. Toleransi publik terhadap perang berkepanjangan dengan korban jiwa yang besar, ditambah biaya hidup tinggi, tetap sangat rendah. Dalam perang pada Juni 2025, serangan rudal Iran menewaskan 30 orang di Israel. Sejak Sabtu, 10 orang dilaporkan tewas akibat serangan balasan Iran.
Horowitz menekankan bahwa dukungan publik lebih banyak tertuju kepada militer ketimbang kepada Netanyahu. “Kemenangan Israel terutama disebabkan oleh tentara dan ketahanan warga sipil, yang memungkinkan negara itu untuk melancarkan perang terpanjang dalam sejarahnya,” katanya. “Popularitas tentara meningkat, bukan popularitas Netanyahu.” ***

>

Saat ini belum ada komentar