Upaya Pemkot Surabaya Menekan Inflasi Jelang Ramadan, Segera Lakukan Pemeriksaan Pasar
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali mengambil langkah strategis untuk menekan laju inflasi di tengah situasi ekonomi yang dinamis. Tindakan ini dilakukan menjelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 2026, yang biasanya menjadi periode kritis bagi stabilitas harga bahan pokok.
Komoditas Penyumbang Inflasi dan Deflasi
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya, sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi pada Januari 2026. Emas perhiasan menjadi salah satu komoditas terbesar dengan kontribusi sebesar 0,19 persen, diikuti oleh nasi dengan lauk sebesar 0,03 persen dan cumi-cumi sebesar 0,01 persen. Sementara itu, deflasi terjadi karena penurunan harga beberapa komoditas seperti angkutan udara (-0,10 persen), cabai rawit (-0,09 persen), dan daging ayam ras (-0,08 persen).
Selain itu, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya juga berkontribusi besar terhadap inflasi, dengan kontribusi sebesar 0,19 persen. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai memperhatikan pengeluaran untuk kebutuhan pribadi dan layanan, yang bisa memengaruhi stabilitas harga secara keseluruhan.
Langkah Strategis Pemkot Surabaya
Untuk menekan inflasi, Pemkot Surabaya akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap harga dan ketersediaan bahan pokok di pasar tradisional, toko swalayan, dan gudang atau distributor. Sidak ini akan berlangsung dari tanggal 11 Februari hingga 12 Maret 2026. Langkah ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap stabil dan harga tidak melonjak tajam.
Selain sidak, Pemkot juga akan menggelar berbagai program seperti Pasar Murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM). Program ini akan berlangsung selama sembilan hari dan dua hari secara serentak pada 25 Februari dan 5 Maret 2026. Komoditas yang akan dijual mencakup beras premium, gula pasir, minyak goreng, telur ayam, daging ayam ras, daging sapi, serta aneka cabai dan bawang-bawangan.
Peran Masyarakat dalam Menjaga Stabilitas Harga
Vykka Anggradevi Kusuma, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Kota Surabaya, mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga stabilitas harga. Ia menekankan pentingnya belanja bahan pokok secara bijak sesuai kebutuhan, bukan hanya untuk kebutuhan darurat atau panic buying.
“Masyarakat harus sadar bahwa ketersediaan bahan pokok di Kota Surabaya masih cukup. Jadi, jangan sampai membeli secara berlebihan karena bisa memicu lonjakan harga,” ujarnya.
Kolaborasi dengan Berbagai Pihak
Pemkot Surabaya juga bekerja sama dengan berbagai pihak seperti Perum Bulog, BUMD, dan swasta dalam menggelar program Pasar Murah dan GPM. Selain itu, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) juga menggerakkan Kios TPID di berbagai lokasi pasar, seperti Pasar Genteng Baru, Pasar Tambahrejo, dan Pasar Karah. Kios-kios ini menyediakan beras, gula, dan minyak dengan harga yang lebih terjangkau.
Pentingnya Keterbukaan Informasi
Selain menggelar program-program tersebut, Pemkot Surabaya juga terus memberikan informasi kepada masyarakat tentang ketersediaan bahan pokok. Dengan demikian, masyarakat dapat merasa tenang dan percaya bahwa stok bahan pokok cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Langkah-langkah yang diambil oleh Pemkot Surabaya untuk menekan inflasi jelang Ramadan dan Idulfitri 2026 menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat dan partisipasi aktif masyarakat, harapan besar terhadap kestabilan harga dan ketersediaan bahan pokok dapat tercapai.***

>

Saat ini belum ada komentar