Masalah Sampah di Kabupaten Malang: Tantangan dan Solusi yang Terus Berkembang
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kabupaten Malang, yang dikenal sebagai kota pendidikan dan pariwisata, kini menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Jumlah produksi sampah terus meningkat setiap tahun, mencerminkan pertumbuhan populasi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Pada tahun 2024 dan 2025, total produksi sampah mencapai sekitar 80 ribu ton. Angka ini menunjukkan bahwa masalah sampah tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Penyebab Peningkatan Produksi Sampah
Menurut Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Ahmad Dzulfikar Nurrahman, peningkatan jumlah sampah terjadi baik pada sampah organik maupun anorganik. Rata-rata produksi sampah harian mencapai 1.200 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 hingga 30 persen adalah sampah plastik, yang terus meningkat setiap tahun. Hal ini dipengaruhi oleh bertambahnya populasi dan perubahan gaya hidup masyarakat yang cenderung lebih konsumtif.
Sampah plastik yang semakin banyak ini memberikan tekanan berat terhadap sistem pengelolaan sampah yang ada. Saat ini, DLH masih menggunakan metode land fill mining, di mana sampah langsung ditumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa pemilahan. Metode ini mulai memenuhi lahan yang tersedia di tiga TPA utama, yaitu TPA Talangagung (Kepanjen), TPA Paras (Poncokusumo), dan TPA Randuagung (Singosari).
Inovasi dalam Pengolahan Sampah
Untuk menghadapi tantangan ini, DLH Kabupaten Malang mulai mengembangkan solusi inovatif. Salah satunya adalah pengolahan sampah plastik menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), bahan bakar alternatif yang berbentuk padat. RDF ini kemudian dikirim ke pabrik Semen Indonesia dari TPA Paras sejak 22 Desember 2025 lalu. Total pengiriman telah mencapai sekitar 70 ton dalam lima kali pengiriman.
Dzulfikar menyatakan bahwa DLH berencana memperluas pengolahan sampah plastik serupa ke TPA lain. Namun, saat ini alat yang digunakan masih disewa, sehingga pihaknya berencana untuk membeli mesin sendiri agar proses pengolahan bisa lebih efisien dan berkelanjutan.
Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah
Selain upaya dari pihak DLH, partisipasi masyarakat juga sangat penting dalam pengelolaan sampah. DLH aktif mengajak warga untuk memilah sampah sesuai jenisnya. Langkah ini tidak hanya membantu pengolahan sampah, tetapi juga mendukung pengurangan volume sampah yang dibuang ke TPA.
Salah satu contoh kerja sama antara DLH dan masyarakat adalah program pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak yang dilakukan oleh PT Ekamas Fortuna. Program ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah bisa dilakukan secara berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Meski ada upaya-upaya positif, Komisi III DPRD Kabupaten Malang, Tantri Bararoh, menyatakan bahwa belum ada rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) pada tahun ini. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah masih menghadapi kendala dalam hal anggaran dan infrastruktur.
Namun, dengan adanya inovasi seperti RDF dan partisipasi masyarakat, harapan untuk pengelolaan sampah yang lebih baik terus berkembang. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan swasta, Kabupaten Malang dapat menjadi contoh dalam menghadapi tantangan sampah di masa depan.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar