Sejarah dan Perubahan Kota Surabaya: Dari Bank of Taiwan ke Pasar Terang
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 19 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya, sebagai kota yang kaya akan sejarah, memiliki banyak jejak perubahan yang tercatat dalam berbagai bangunan dan infrastruktur. Salah satu contohnya adalah lokasi yang kini dikenal sebagai Pasar Terang di Jalan Kembang Jepun. Tempat ini dulunya merupakan bekas gedung Bank of Taiwan, sebuah bangunan yang memiliki nilai historis tinggi.
Jejak Sejarah yang Tertelan Perkembangan Kota
Pada masa lalu, bangunan tersebut menjadi pusat aktivitas penting, termasuk tempat kerja bagi media massa lokal. “The Chung Sen sebagai pemilik dan pendiri Java Post menjadikan gedung itu sebagai kantor redaksi,” kata sumber yang terlibat dalam penelitian sejarah kota. Selain itu, kantor tata usaha Java Post juga berada di dekat lokasi tersebut, yaitu di Kembang Jepun 167.
Dari kawasan Pecinan Surabaya, cikal bakal media yang kini dikenal sebagai Jawa Pos mulai berkembang. Namun, perkembangan kota yang pesat memaksa pemerintah melakukan proyek pelebaran Jalan Kembang Jepun. Proyek ini berdampak pada pembongkaran puluhan bangunan lama, termasuk eks gedung Bank of Taiwan.
“Bangunan itu ikut dibongkar bersama gedung-gedung lain,” ujar Yonas, salah satu tokoh yang terlibat dalam diskusi tentang perubahan kota.
Perubahan Fisik dan Pengaruhnya pada Masyarakat
Perubahan wajah kota tidak hanya menghapus fisik bangunan bersejarah, tetapi juga mengubah dinamika sosial dan ekonomi di sekitar area tersebut. Pasar Terang, yang kini menjadi pusat perdagangan, mungkin tidak lagi menyimpan ingatan akan masa lalu. Namun, bagi sebagian orang, keberadaannya tetap menjadi pengingat akan bagaimana kota ini berkembang dari masa kolonial hingga era modern.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa penggantian bangunan-bangunan tua dengan struktur baru sering kali dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek sejarah. Hal ini membuat banyak orang merasa kehilangan identitas wilayah yang dulunya penuh dengan cerita dan kenangan.
Pertanyaan tentang Pelestarian Warisan Budaya
Dalam konteks ini, muncul pertanyaan penting: Apakah perkembangan kota harus selalu mengorbankan warisan sejarah? Banyak ahli memandang bahwa pembangunan harus seimbang dengan pelestarian nilai-nilai budaya yang telah ada sejak lama.
“Kita perlu lebih hati-hati dalam mengambil keputusan yang berdampak pada lingkungan dan sejarah,” ujar seorang peneliti sejarah.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk lebih sadar akan pentingnya melindungi situs-situs sejarah yang masih tersisa. Dengan adanya kesadaran ini, diharapkan kota-kota seperti Surabaya dapat tetap menjaga identitasnya meskipun terus berkembang.
Relevansi Sejarah dalam Pembangunan Masa Depan
Sejarah tidak hanya sekadar catatan masa lalu, tetapi juga menjadi panduan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dengan memahami perubahan yang telah terjadi, masyarakat dan pemerintah bisa bekerja sama dalam menciptakan ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga bermakna.***

>

Saat ini belum ada komentar