Perayaan Ulang Tahun Ke-79 Megawati di Tengah Keluarga dan Kepedulian Bangsa
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Perayaan ulang tahun ke-79 Megawati Soekarnoputri berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh makna. Meski hujan deras mengguyur Kota Bogor, Jawa Barat, tidak mengurangi semangat dan keakraban para tamu yang hadir di Istana Batutulis. Acara digelar secara sederhana, dengan dekorasi yang memadukan tradisi dan kesederhanaan. Ruangan dipenuhi rangkaian bunga anggrek dan meja-meja sederhana, mencerminkan selera Megawati yang tetap rendah hati.
Kebersamaan Keluarga sebagai Saksi Perjalanan Hidup
Kehadiran keluarga menjadi bagian penting dari perayaan ini. Ketiga anak Megawati, yaitu Mohammad Rizki Pratama, Muhammad Prananda Prabowo, dan Puan Maharani, hadir lengkap. Mereka dikelilingi oleh cucu-cucu dan menantu, seperti Nancy Prananda serta Hapsoro Sukmonohadi. Selain itu, kerabat besar Bung Karno juga turut merayakan, termasuk kakak kandung Megawati, Mohammad Guntur Soekarnoputra, bersama putrinya, Puti Guntur Soekarno.
Kebersamaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan wujud penghargaan terhadap perjalanan hidup Megawati. Mulai dari masa muda yang penuh perjuangan hingga perjalanan politik yang penuh dinamika, keluarga menjadi saksi sekaligus penopang utama. Di usia ke-79, Megawati menegaskan bahwa kehangatan keluarga tetap menjadi tempat pulang, bahkan di tengah hiruk-pikuk dunia politik.
Kehadiran Tokoh Partai dan Sastrawan
Selain keluarga, para tokoh partai dan sahabat lama Megawati turut hadir. Dalam acara tersebut, Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto duduk di meja utama bersama Megawati. Para pengurus teras PDI-P, seperti Olly Dondokambey, Rudianto Tjen, dan Yuke Yurike, juga hadir. Nama-nama seperti Ganjar Pranowo, Ahmad Basarah, dan Eriko Sotarduga turut berbaur dalam suasana yang cair dan akrab.
Sejumlah sahabat lama dari kalangan pers, seperti Widiarsi Agustina dan Kristin Samah, juga tampak berbincang akrab di meja Megawati. Mereka memberikan nuansa hangat yang memperkaya suasana perayaan.
Suasana Santai dan Musik yang Mengiringi
Perayaan kian cair ketika alunan musik mulai terdengar. Lagu-lagu kesukaan Megawati mengisi ruangan, mengundang para tamu untuk ikut bersenandung. Sesekali, Megawati tampak mengangguk mengikuti irama, menikmati perayaan yang berlangsung santai dan bersahaja.
Puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur. Hidangan yang disajikan sederhana, mencerminkan selera Megawati, seperti soto, aneka lauk Nusantara, serta sayuran rebus. Potongan tumpeng pertama diserahkan kepada Guntur Soekarnoputra. Setelah itu, ia mengajak adiknya bernyanyi bersama. Megawati menyanyikan “Cinta Hampa” dan “My Way”, suaranya mengalun tenang, disambut lantunan suara para tamu yang ikut bersenandung.
Momentum Haru dan Keakraban
Setelah seluruh rangkaian doa serta pemotongan tumpeng dan kue selesai, tiga anak Megawati mendekat dan mengecup sang ibu, tepat menjelang acara berakhir. Momen itu berlangsung haru dan penuh kegembiraan, menutup perayaan dengan keheningan emosional yang kuat. Menurut Hasto Kristiyanto, kecupan tersebut menjadi refleksi relasi mendalam antara ibu dan anak. Ia menyebut bahwa ulang tahun seorang ibu merefleksikan penghormatan anak atas kasih ibu sepanjang masa.
Kepedulian Megawati pada Kondisi Bangsa
Di balik perayaan yang berlangsung sederhana, perhatian Megawati tetap tertuju pada kondisi bangsa yang tengah dilanda cuaca ekstrem. Di sela-sela ulang tahun, ia memantau laporan banjir dan rob di sejumlah wilayah, termasuk perkembangan sistem pengelolaan sampah di Surabaya dan Trenggalek. Kepedulian ini juga diterjemahkan secara simbolik melalui hadiah ulang tahun dari jajaran struktural partai berupa kegiatan menanam pohon, menyelamatkan mata air, membersihkan sungai, serta melepas ikan dan burung ke alam bebas.
Nilai-nilai Tradisi dan Budaya yang Tetap Terjaga
Menurut Hasto, kehadiran anak, cucu, serta keluarga besar Bung Karno dalam perayaan itu menggambarkan kehidupan keluarga yang rukun dan penuh kebersamaan. Nilai-nilai tradisi dan budaya, terutama penghormatan kepada orang tua, tetap dijaga dan diwariskan lintas generasi dalam keluarga tersebut. Dalam perspektif kerakyatan, jajaran partai juga menggelar tumpengan bersama rakyat di daerah masing-masing.
Peran Keluarga dalam Dunia Politik
Bagi Megawati, keteguhan dalam perjalanan politik tidak tumbuh sendirian. Dalam perjalanan panjangnya, keluarga menjadi salah satu penopang penting. Almarhum suaminya, Taufiq Kiemas, dikenal mengambil peran sebagai pendamping sekaligus penyeimbang. Relasi keduanya dibangun bukan di atas keseragaman pandangan, melainkan keberanian untuk berbeda demi tujuan yang sama.
Jejak dukungan keluarga itu berlanjut ke generasi berikutnya. Puan Maharani terlibat langsung dalam pengelolaan partai dan lembaga negara, sementara Prananda Prabowo menjalani peran strategis di balik layar partai. Bersama Megawati, keterlibatan anak-anaknya menunjukkan bahwa keluarga tidak hanya menjadi tempat pulang, tetapi juga bagian dari kerja politik yang dijalani dengan disiplin dan kehati-hatian.
Penutup: Keluarga sebagai Tempat Pulang dan Penjaga Kewarasan
Di usia ke-79, Megawati merayakan ulang tahunnya tanpa kemegahan berlebih. Di tengah keluarga, sahabat, dan kader, ia menegaskan satu hal penting. Di balik perjalanan politik yang panjang dan penuh dinamika, kehangatan keluarga tetap menjadi tempat pulang, sekaligus penjaga kewarasan di tengah hiruk-pikuk kekuasaan.

>

Saat ini belum ada komentar