Krisis Ekonomi yang Mengguncang Rial: Mata Uang Iran Ambruk dan Protes Massal Muncul
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sel, 13 Jan 2026
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Krisis ekonomi yang terjadi di Iran telah memicu gelombang protes besar-besaran di berbagai wilayah negara tersebut. Kondisi ini dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial, inflasi tinggi, serta penurunan daya beli masyarakat. Situasi ini semakin memperburuk keadaan, mengakibatkan ketidakpuasan yang meluas di kalangan warga.
Penyebab Utama Krisis Ekonomi di Iran
Salah satu faktor utama penyebab krisis ekonomi adalah anjloknya nilai tukar rial terhadap dolar AS. Pada akhir 2025, rial merosot sekitar 45 persen. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk sanksi internasional yang membatasi akses Iran ke pasar global dan perbankan internasional. Selain itu, korupsi sistemik dan pengelolaan ekonomi yang tidak efisien juga turut berkontribusi pada keruntuhan perekonomian negara tersebut.
Sistem kurs bertingkat yang diterapkan pemerintah juga menjadi salah satu masalah. Sistem ini menyebabkan disparitas harga antara barang impor dan lokal, sehingga memperparah ketidakpuasan masyarakat. Warga Iran mulai beralih ke mata uang asing, emas, atau properti untuk melindungi kekayaan mereka dari inflasi yang tinggi.
Dampak Ekonomi Terhadap Rakyat
Inflasi yang tinggi dan nilai tukar rial yang ambruk berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Biaya hidup meningkat secara signifikan, membuat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Aksi protes massal mulai muncul di berbagai kota, termasuk di kota Abdanan, provinsi Ilam, di mana ribuan demonstran turun ke jalan.
Pemerintah Iran mencoba mengatasi situasi ini dengan memperketat pengawasan dan membatasi akses internet. Namun, tindakan ini tidak berhasil menghentikan aksi demonstrasi. Bahkan, pembatasan internet justru memicu lebih banyak kemarahan dari masyarakat.
Peran Sanksi Internasional dan Harga Minyak
Sanksi Barat terhadap Iran, khususnya terkait program nuklir negara tersebut, telah memengaruhi ekonomi Iran secara signifikan. Sanksi ini membatasi ekspor minyak dan menghambat akses ke perbankan internasional. Akibatnya, Iran kesulitan dalam mendapatkan valuta asing yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Selain itu, harga minyak mentah Brent yang turun hingga 18 persen pada tahun 2025 juga memberi tekanan berat pada perekonomian Iran. Minyak mentah hanya berada di kisaran USD60 per barel, jauh di bawah angka USD165 yang dibutuhkan pemerintah untuk mencapai titik impas dalam anggarannya.
Tanggapan Presiden Iran
Presiden Masoud Pezeshkian menuding Amerika Serikat (AS) dan Israel sebagai pihak yang memicu krisis di Iran. Dalam wawancara di televisi pemerintah, ia menyatakan bahwa AS dan Israel ingin menabur kekacauan di negara tersebut. Pezeshkian juga menyerukan kepada warga Iran untuk tidak terlibat dalam kerusuhan dan tetap menjaga stabilitas.
Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf juga mengeluarkan peringatan keras terhadap AS. Ia menegaskan bahwa jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan Israel dan semua pangkalan serta kapal AS akan menjadi target sah.
Konflik Lalu dan Dampaknya
Iran dan AS serta Israel sempat terlibat dalam konflik selama 12 hari tahun lalu setelah serangan Israel. Fasilitas nuklir Iran dibom selama konflik tersebut, yang mengakibatkan ratusan korban jiwa. Iran membalas dengan menembakkan ratusan rudal balistik ke kota-kota Israel, mengakibatkan 28 korban tewas di pihak Israel.
Tantangan Ke depan
Dengan kondisi saat ini, Iran menghadapi tantangan besar dalam memulihkan perekonomian. Stabilitas nilai tukar rial dan pengendalian inflasi menjadi prioritas utama. Namun, tantangan eksternal seperti sanksi internasional dan fluktuasi harga minyak masih menjadi ancaman yang terus menghantui negara tersebut.***





Saat ini belum ada komentar