BBCA Tekanan Jual Asing yang Mengguncang Saham Bank Central Asia
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 6 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIDAGRAMKOTA.COM – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sorotan pasar modal Indonesia akibat tekanan jual asing yang sangat besar dalam sepekan terakhir. Data menunjukkan bahwa selama periode 19 hingga 27 Januari 2026, nilai net foreign sell di saham BBCA mencapai angka Rp 5,86 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan total net sell di pasar pada periode yang sama, yaitu Rp 4,46 triliun.
Pergerakan harga saham BBCA juga mengalami penurunan signifikan. Dalam kurun waktu tersebut, harga saham turun sebesar 575 poin atau -7,12%. Kondisi ini memperlihatkan tekanan jual yang sangat dominan terhadap emiten perbankan terbesar di Indonesia tersebut.
Pergerakan Harga dan Indikator Teknikal
Saat ini, harga saham BBCA berada di bawah moving average (MA) 9 dan MA 50, yang menjadi indikator kuat bahwa tren penurunan masih berlangsung. Struktur harga saham membentuk pola lower high-lower low, yang menunjukkan bahwa level tertinggi dan terendah semakin menurun. Hal ini terjadi setelah saham gagal bertahan di area 8.800 hingga 9.000.
Selain itu, volume perdagangan saham BBCA tetap tinggi meskipun harga sedang mengalami penurunan tajam. Ini menunjukkan bahwa aktivitas jual dari investor asing terus berlangsung dengan intensitas tinggi.
Aksi Jual Asing yang Masih Dominan
Pada perdagangan terakhir, yaitu Selasa (27/1/2026), aksi jual asing terhadap saham BBCA masih tercatat dalam jumlah besar. Nilai net sell asing mencapai Rp 1,1 triliun. Rata-rata harga jual saham BBCA oleh investor asing adalah sekitar Rp 7.536,3.
Akibatnya, harga saham BBCA turun sebesar 1,96% ke level 7.500. Penurunan ini membuat saham BBCA menjadi salah satu pemberat utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari itu.
Perkembangan IHSG dan Sektor Pemengang
Meski saham BBCA mengalami tekanan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil pulih secara perlahan. Setelah sempat turun 1,13% pada sepuluh menit pertama perdagangan, IHSG ditutup naik tipis 4,89 poin atau 0,05% ke level 8.980,23.
Dari sisi sektor, mayoritas sektor mengalami kenaikan. Sektor energi dan teknologi menjadi yang paling positif, sementara sektor konsumer primer dan finansial mengalami penurunan terparah.
Beberapa saham seperti DSSA, GOTO, dan TLKM menjadi penggerak utama IHSG dalam perdagangan tersebut. Meski demikian, penurunan harga saham BBCA tetap menjadi isu utama di pasar modal Indonesia.
Analisis Pasar dan Perspektif Investor
Banyak analis memperkirakan bahwa tekanan jual asing terhadap saham BBCA akan terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini didasarkan pada kondisi teknikal yang tidak menguntungkan serta volume transaksi yang tetap tinggi.
Investor domestik dan asing harus memantau perkembangan lebih lanjut terkait kinerja keuangan BBCA serta kondisi makroekonomi yang dapat memengaruhi sentimen pasar. Dengan situasi saat ini, investor disarankan untuk bersikap hati-hati dan mempertimbangkan strategi investasi yang tepat.

>

Saat ini belum ada komentar