Muhammadiyah bakal salurkan bantuan 30 ton beras dari UEA yang sempat ditolak Pemkot Medan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Minggu, 21 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM– Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan mendistribusikan bantuan kemanusiaan berupa beras sebanyak 30 ton yang berasal dari Uni Emirat Arab (UEA). Penerimaan bantuan dari luar negeri ini sebelumnya sempat memicu perdebatan, karena Pemerintah Kota (Pemkot) Medan pernah mengembalikan bantuan dari negara tersebut.
Ketua Umum (Ketum) PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara serta mitra kemanusiaan dari Uni Emirat Arab (UEA) kepada Muhammadiyah dalam mendistribusikan bantuan tersebut. Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap berkomitmen untuk membantu masyarakat yang terkena dampak bencana di berbagai daerah, tanpa memandang status bencananya.
“Dalam kegiatan kemanusiaan, Muhammadiyah tidak menghiraukan status bencana. Bila masyarakat memerlukan bantuan, itulah saatnya Muhammadiyah bertindak,” ujar Haedar kepada wartawan, Minggu (21/12).
Ia menambahkan, prinsip pergerakan Muhammadiyah dalam menanggapi bencana adalah sedikit berbicara, banyak bertindak, dengan menitikberatkan pada tindakan nyata, cepat, dan tepat sasaran. Selanjutnya, Haedar memastikan akan segera menyerahkan bantuan beras tersebut kepada masyarakat yang terkena dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Pulau Sumatera.
“Bantuan ini akan segera diberikan kepada masyarakat yang memerlukan sebagai bentuk komitmen Muhammadiyah dalam terus melayani kemanusiaan dan kebangsaan,” katanya.
Sebelumnya, Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Bobby Nasution, memastikan bantuan kemanusiaan berupa beras sebanyak 30 ton dari Uni Emirat Arab (UEA) tetap disampaikan kepada para korban banjir. Bantuan tersebut dipastikan tidak dikembalikan ke negara asalnya, melainkan akan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui Muhammadiyah.
Bobby menjelaskan bahwa bantuan tersebut tidak bersifat pemerintah ke pemerintah (G2G), melainkan berasal dari organisasi nonpemerintah atau non-government organization (NGO) di Uni Emirat Arab. “Ini bukan bantuan G2G. Jadi, bukan dari negara Uni Emirat Arab, tetapi dari NGO,” kata Bobby, Jumat (19/12).
Karena berasal dari organisasi non-pemerintah (NGO), lanjut Bobby, Pemerintah Kota Medan kemudian menyerahkan dan mempercayakan distribusi bantuan tersebut kepada Muhammadiyah sebagai lembaga kemanusiaan yang memiliki jaringan serta pengalaman dalam menghadapi bencana. “Sebenarnya bukan dikembalikan, tetapi karena bantuan ini datang dari NGO, maka diserahkan kepada NGO yang ada di Indonesia, yaitu Muhammadiyah. Nanti Muhammadiyah akan menyalurkannya kepada para korban,” tambahnya. ***

>
>
Saat ini belum ada komentar