Liburan Di Surabaya Didominasi Mal, Apa Kabar Tempat Wisata?
- account_circle Shinta ms
- calendar_month Sen, 29 Des 2025
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kota Surabaya mencatat lonjakan signifikan kunjungan wisatawan selama libur Natal 2025.
Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya menyebut, ratusan ribu wisatawan masuk ke Kota Pahlawan dalam periode libur akhir tahun tersebut.
Namun, peningkatan angka ini memunculkan catatan kritis: geliat wisata Surabaya masih bertumpu pada sektor pusat perbelanjaan.
Kepala Disbudporapar Surabaya, Hidayat Syah, mengungkapkan total kunjungan wisatawan mencapai sekitar 500 ribu orang. Mayoritas wisatawan memilih menghabiskan waktu di mal, seiring digelarnya program Surabaya Holiday Super Sale yang gencar dipromosikan Pemkot Surabaya.
“Total (wisatawan) yang masuk itu sekitar 500.000-an, itu pun banyaknya ke mal-mal. Karenakan sekarang ini lagi ada Surabaya Holiday Super Sale itu ya, bahkan Pak Wali (Eri Cahyadi) sudah ikut promosikan itu juga,” kata Hidayat, Senin (29/2025).
Selain mal, destinasi wisata publik seperti Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran juga mengalami peningkatan kunjungan.
Tempat Wisata di Kota Pahlawan
Selama libur Natal, jumlah wisatawan yang datang ke THP Kenjeran tercatat mencapai sekitar 10 ribu orang, termasuk lima wisatawan mancanegara.
“Malah ada juga lima orang asing, lumayan ada yang berkunjung di sana,” jelas Hidayat.
Wisata perahu di Taman Prestasi juga menunjukkan minat pengunjung yang cukup stabil.
Disbudporapar mencatat sekitar 2.500 hingga 3.000 wisatawan lokal menikmati fasilitas tersebut, ditambah tujuh wisatawan asing yang mencoba wisata air di kawasan tengah kota itu.
Tak hanya destinasi milik Pemkot, tempat wisata yang dikelola investor swasta turut kebanjiran pengunjung. Sejumlah wahana seperti Shanghai Park di Pakuwon City Mall hingga floating market disebut menjadi magnet wisata baru selama libur Natal.
“Ada juga (wisatawan) yang mengunjungi tempat wisata yang dibuat oleh investor. Seperti di Shanghai Park di Pakuwon City Mal itu juga ramai, kemudian di floating market juga ramai, dan masih banyak lainnya,” ujarnya.
Hidayat menyebut, setidaknya ada tiga faktor utama yang mendorong tingginya minat wisatawan ke Surabaya. Pertama, program Surabaya Holiday Super Sale yang menarik wisata belanja.
Kedua, kondisi kota yang dinilai semakin nyaman dari sisi fasilitas dan hiburan. Ketiga, faktor cuaca ekstrem yang membuat wisatawan enggan bepergian ke luar kota.
“Karena kan BMKG sebelumnya juga sudah memperingatkan soal cuaca ekstrem. Jadi kalau pun pergi keluar kota mereka akan mempertimbangkan ya,” ungkapnya.
Meski demikian, dominasi wisata belanja memunculkan tantangan tersendiri bagi Pemkot Surabaya.
Ketergantungan pada mal dan event diskon menunjukkan potensi wisata non-komersial seperti kawasan sejarah, ruang publik, dan wisata berbasis budaya masih perlu didorong lebih serius.
Hidayat menegaskan, Surabaya sebenarnya memiliki banyak alternatif wisata keluarga, seperti kawasan Tunjungan Romansa dan Kota Lama Surabaya. Bahkan pada malam pergantian tahun, Pemkot menggelar agenda Refleksi Surabaya di Kota Lama yang melibatkan lintas komunitas dan agama.
“Bahkan nanti pada malam pergantian tahun di Kota Lama juga ada Refleksi Surabaya. Ada teman-teman dari Karang Taruna, Kepemudaan Lintas Agama mulai dari Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Nahdlatul Ulama, Pemuda Gereja, Pemuda Buddha, dan sebagainya. Mereka akan perenungan, diskusi, dan doa bersama di Kota Lama saat malam pergantian tahun,” paparnya.
Ke depan, Disbudporapar berkomitmen meningkatkan keamanan dan kenyamanan kota agar wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga tinggal lebih lama. Pengembangan event non-konvensional seperti esport juga disebut menjadi daya tarik baru bagi wisatawan luar kota.
“Bahkan pertandingan esport juga terus kita galakkan, karena sekarang ini banyak sekali penonton (esport) dari luar kota, mereka merasa nyaman di Surabaya,” ucapnya.
Sementara itu, Hidayat memastikan Pemkot Surabaya tidak menggelar pesta kembang api pada malam tahun baru. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk empati terhadap warga di berbagai daerah yang tengah terdampak bencana.
“Yang tidak diperbolehkan hanya kembang api, karena kan kita bagian dari Indonesia. Kalau sebagian dari Indonesia lagi prihatin, masa kita menyalakan kembang api? Ya jangan, Pak Wali juga sudah menyarankan jangan,” pungkasnya. (sms)
- Penulis: Shinta ms




