Banjir Rob Menerjang Tingkulang dan Tomini Barat, Ratusan Rumah Terendam, Warga Mengungsi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sen, 8 Des 2025
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Ombak air laut kembali meluap di pesisir Parigi Moutong. Pada hari Sabtu (6/12), banjir rob menghancurkan Desa Tingkulang dan Desa Tomini Barat, Kecamatan Tomini, sekitar pukul 16.00 WITA. Kenaikan air laut yang signifikan menyebabkan ombak menerjang permukiman warga hingga merendam rumah-rumah penduduk dan menutupi sebagian jalan Trans Sulawesi.
Warga di Dusun 1 Desa Tingkulang serta Dusun 1 dan 2 Desa Tomini Barat merasa kaget karena air segera masuk ke lingkungan mereka. Rumah-rumah terendam, jalan utama tidak bisa dilalui sementara, dan kegiatan warga berhenti total. “Air tiba-tiba naik, sangat cepat masuk ke rumah,” kata salah satu warga yang sempat menyelamatkan barang berharga sebelum gelombang mencapai puncaknya.
Data yang dikumpulkan oleh tim BPBD menyebutkan bahwa Desa Tingkulang mencatat sebanyak 17 KK atau 59 jiwa terkena dampak, dengan dua rumah terendam. Sementara itu, di Desa Tomini Barat dampaknya jauh lebih besar: 11 KK (32 jiwa) di Dusun 1 dan 34 KK (117 jiwa) di Dusun 2 terkena banjir, serta total 25 rumah dilaporkan rusak ringan hingga sedang akibat meluapnya air laut tersebut.
Meskipun tidak ada korban jiwa, dua kepala keluarga dari Desa Tingkulang harus pindah ke rumah kerabat untuk menjaga keselamatan. Warga lainnya juga melakukan evakuasi ke area yang lebih tinggi seiring meningkatnya ketinggian air. Untungnya, cuaca kembali tenang menjelang malam sehingga air mulai berkurang perlahan.
TRC dan Pusdalops BPBD Provinsi Sulteng bekerja sama dengan BPBD Parigi Moutong segera melakukan penilaian di lapangan. Koordinasi darurat dilakukan agar kebutuhan penting masyarakat dapat segera terpenuhi. Wilayah pesisir yang kembali terkena rob ini juga menarik perhatian serius pemerintah daerah karena kejadian serupa mulai terulang.
Selanjutnya, kebutuhan mendesak yang diusulkan oleh BPBD adalah pembangunan tanggul penghalang gelombang serta bantuan logistik penanganan bencana bagi masyarakat yang terkena dampak. Keterbatasan struktur perlindungan pantai menyebabkan wilayah ini terus rentan terhadap ancaman pasang surut yang bisa terjadi kembali kapan saja.
Dalam laporan resmi yang ditandatangani oleh Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulteng, Dr. Ir. H. Akris Fattah Yunus, MM, kondisi terkini di lokasi mulai kembali normal dengan air yang telah surut. Namun, tetap diperlukan kewaspadaan, karena sebagian masyarakat masih tinggal di rumah kerabat hingga situasi benar-benar aman. Lokasi kejadian bisa dilihat melalui koordinat yang telah dipublikasikan oleh BPBD agar memudahkan pemantauan lapangan.***





Saat ini belum ada komentar