Konten Viral Kuasai Media Sosial, Publik Diminta Cek Fakta Informasi
- account_circle Teguh Priyono
- calendar_month 20 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM. – Maraknya konten viral di media sosial membuat masyarakat harus lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi. Publik diminta tidak langsung mempercayai informasi yang ramai dibagikan tanpa melakukan pengecekan fakta terlebih dahulu.
Kolumnis dan Pengajar Psikologi Komunikasi serta New Era Media, M. Isa Ansori, menilai perkembangan media sosial telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat.
Saat ini, banyak pengguna internet lebih cepat menerima informasi dari TikTok, Instagram, YouTube, maupun platform digital lainnya dibanding media arus utama.
“Konten yang viral belum tentu benar. Banyak informasi menyebar karena memancing emosi, bukan karena memiliki fakta yang kuat,” ujar Isa Ansori di Surabaya, Jumat (9/5/2026).
Ia menjelaskan, algoritma media sosial bekerja berdasarkan tingkat perhatian pengguna. Semakin banyak sebuah konten mendapat komentar,
“dibagikan, atau memancing reaksi emosional, maka semakin besar peluang konten tersebut muncul di berbagai lini masa pengguna lain.
Menurutnya, kondisi itu membuat ruang digital rentan dipenuhi hoaks, propaganda, hingga manipulasi opini publik. Informasi yang belum terverifikasi sering kali lebih cepat menyebar dibanding klarifikasi atau fakta sebenarnya.
Isa Ansori mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan viralitas sebagai ukuran kebenaran.
Ia menilai kebiasaan langsung membagikan informasi tanpa memeriksa sumber hanya akan memperbesar penyebaran disinformasi di media sosial.
“Publik harus membiasakan diri memeriksa sumber informasi, membaca secara utuh, dan membandingkan dengan referensi lain sebelum percaya atau membagikannya,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran media mainstream dalam menjaga kualitas informasi publik.
Menurutnya, media profesional tetap memiliki fungsi penting karena bekerja dengan standar jurnalistik, seperti verifikasi data, cek silang informasi, dan kode etik pemberitaan.
Namun demikian, Isa Ansori menilai media mainstream juga perlu beradaptasi dengan perubahan perilaku audiens digital.
Media harus mampu menyampaikan informasi yang cepat, mudah dipahami, dan dekat dengan masyarakat tanpa meninggalkan prinsip akurasi.
Selain itu,
ia meminta influencer dan content creator memahami dampak besar dari konten yang mereka produksi.
Pengaruh mereka di media sosial dinilai sangat kuat dalam membentuk opini publik, terutama di kalangan generasi muda.
“Influencer tidak harus menjadi jurnalis, tetapi mereka perlu memiliki kesadaran etik agar tidak ikut menyebarkan informasi yang menyesatkan,” ujarnya.
Isa Ansori menegaskan literasi digital menjadi kunci utama menghadapi banjir konten viral di era media sosial. Ia berharap masyarakat semakin kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Menurutnya, ruang publik digital yang sehat hanya bisa terwujud apabila masyarakat, media, pemerintah, dan para kreator konten sama-sama menjaga etika komunikasi dan menghormati kebenaran informasi.(Dk/yud)
- Penulis: Teguh Priyono

>
>
