Perubahan Besar di Oracle: PHK Massal untuk Fokus pada Infrastruktur AI
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 11 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Perusahaan teknologi raksasa, Oracle, sedang menghadapi perubahan besar dalam struktur organisasinya. Dalam upaya mempercepat investasi di infrastruktur kecerdasan buatan (AI), Oracle dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang berdampak pada ribuan karyawan di seluruh dunia. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap permintaan pasar yang meningkat dan tekanan finansial yang semakin ketat.
Strategi Perusahaan untuk Menghadapi Tantangan Teknologi
Oracle, yang dikenal sebagai salah satu perusahaan perangkat lunak terbesar di dunia, saat ini fokus pada pengembangan infrastruktur AI. Upaya ini melibatkan peningkatan investasi besar-besaran dalam pusat data dan sumber daya komputasi yang diperlukan untuk mendukung pengembangan teknologi tersebut. Namun, strategi ini juga menimbulkan konsekuensi signifikan bagi tenaga kerjanya.
Dilaporkan bahwa jumlah karyawan yang dipangkas mencapai antara 20.000 hingga 30.000 orang, atau sekitar 18 persen dari total staf global per Mei 2025. Proses pemangkasan ini dilakukan secara mendadak, dengan banyak karyawan menerima pemberitahuan melalui email pada pagi hari tanpa persiapan sebelumnya.
Dampak pada Divisi dan Wilayah Tertentu
Beberapa divisi dalam Oracle menjadi lebih rentan terhadap pemangkasan. Misalnya, divisi Revenue and Health Sciences (RHS) serta SaaS and Virtual Operations Services (SVOS) dilaporkan mengalami pengurangan hingga 30 persen. Selain itu, pusat pengembangan NetSuite di India juga mengalami pengurangan posisi di berbagai level senioritas.
Analis dari TD Cowen memproyeksikan bahwa pengurangan ini dapat memberikan arus kas bebas sebesar USD 8 miliar hingga USD 10 miliar. Dana ini akan digunakan untuk mendanai ekspansi pusat data AI yang sangat besar dan agresif.
Kinerja Finansial dan Tekanan Investor
Meskipun Oracle mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 95 persen menjadi USD 6,13 miliar pada kuartal terakhir, perusahaan menghadapi tekanan investor terkait tumpukan utang. Oracle dilaporkan telah mengambil utang baru sebesar USD 58 miliar dalam dua bulan terakhir untuk mendanai ekspansi teknologinya.
Direktur Eksekutif Oracle, Clay Magouyrk, menyatakan bahwa permintaan untuk infrastruktur AI, baik GPU maupun CPU, terus melampaui pasokan. Hal ini tercermin dalam sisa kewajiban kinerja (RPO) perusahaan yang mencapai USD 553 miliar.
“Permintaan untuk infrastruktur AI terus melampaui pasokan. Hal ini terlihat langsung dalam sisa kewajiban kinerja kami sebesar USD 553 miliar,” ujar Magouyrk.
Kontras Antara Profitabilitas dan Pemangkasan Kerja
Kontras antara profitabilitas tinggi dan pemangkasan kerja massal ini menunjukkan skala pertaruhan besar yang dilakukan Oracle. Perusahaan kini memprioritaskan likuiditas untuk mengejar ketertinggalan dari rival awan seperti Amazon dalam perlombaan infrastruktur AI global.
Langkah ini menunjukkan bahwa Oracle siap mengambil risiko besar untuk tetap menjadi pemimpin dalam industri teknologi yang berkembang pesat. Meski demikian, dampak sosial dari pemangkasan ini tidak bisa diabaikan, terutama bagi karyawan yang terkena dampak langsung.
Masa Depan Oracle dalam Era AI
Dengan fokus pada pengembangan infrastruktur AI, Oracle berharap dapat memperkuat posisinya dalam pasar global. Namun, langkah ini juga menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh perusahaan teknologi besar dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan tanggung jawab sosial terhadap karyawan.***

>
>
>
>
Saat ini belum ada komentar