El Nino Perubahan Iklim Global dan Dampaknya pada Musim Kemarau di Indonesia
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 4 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Perubahan iklim global terus memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Fenomena La Niña yang sebelumnya memengaruhi kondisi iklim nasional mulai menghilang, dan kini diperkirakan akan digantikan oleh El Niño. Hal ini membawa konsekuensi signifikan terhadap musim kemarau 2026, yang diprediksi datang lebih awal dan berpotensi lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Prediksi Awal Musim Kemarau Lebih Cepat
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa peralihan dari La Niña ke fase netral iklim global telah terjadi sejak Februari 2026. Saat ini, indeks ENSO (El Niño-Southern Oscillation) berada dalam kondisi netral dengan angka -0,28. Meski belum menunjukkan tanda-tanda El Niño, peluang munculnya fenomena ini pada semester kedua tahun ini meningkat, dengan probabilitas sekitar 50-60 persen.
Menurut Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, pemantauan anomali iklim global menunjukkan bahwa kondisi iklim saat ini sedang beralih menuju fase El Niño. Hal ini berpotensi mempercepat masuknya musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia.
Wilayah Terdampak Awal Musim Kemarau
Berdasarkan analisis BMKG, sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta sebagian kecil wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa pada Mei 2026, sebanyak 184 ZOM atau 26,3 persen wilayah Indonesia akan menyusul memasuki musim kemarau. Sementara itu, 163 ZOM atau 23,3 persen wilayah lainnya diprediksi mengalaminya pada Juni 2026.
Puncak Musim Kemarau di Agustus 2026
BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. Periode ini diperkirakan mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli meliputi sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta sebagian kecil wilayah Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Pulau Papua.
Pada Agustus, cakupan wilayah yang mengalami puncak kemarau diprediksi semakin meluas secara signifikan. Kondisi kering diperkirakan mendominasi wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian wilayah Maluku dan Papua.
Persiapan Menghadapi Musim Kemarau yang Lebih Kering
Faisal menekankan pentingnya langkah antisipasi dari berbagai pihak, mulai dari kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Di sektor pangan, para petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas tanaman yang lebih hemat air, tahan terhadap kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat.
“Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi,” ujarnya.
Dampak yang Mungkin Terjadi
Musim kemarau yang lebih awal dan kering dapat berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air, dan bahkan risiko kebakaran hutan. Selain itu, peningkatan suhu udara juga bisa memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama lansia dan anak-anak.
Dengan prediksi ini, pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan mempersiapkan langkah-langkah mitigasi yang efektif untuk mengurangi dampak negatif dari musim kemarau 2026.

>
>
>

Saat ini belum ada komentar