Pengadilan Diminta Tindak Lanjuti Kesalahan Redaksi Dokumen Jeffrey Epstein
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Para pengacara korban kasus Jeffrey Epstein meminta pengadilan untuk mengambil tindakan terhadap dokumen yang telah dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ). Mereka menilai bahwa kesalahan dalam redaksi informasi pribadi korban telah menyebabkan kerugian serius dan ancaman terhadap keamanan para korban.
Dalam sebuah surat yang ditulis oleh Brittany Henderson dan Brad Edwards, dua pengacara ternama yang mewakili korban Epstein, mereka menuntut intervensi langsung dari hakim New York yang menangani kasus Epstein dan Ghislaine Maxwell. Surat tersebut menyatakan bahwa kesalahan redaksi yang terjadi sangat serius dan tidak dapat dijelaskan hanya sebagai kesalahan administratif biasa.
Kesalahan Redaksi yang Menyebabkan Kekacauan
Henderson mengungkapkan bahwa dalam 48 jam terakhir, mereka sudah melaporkan ribuan kesalahan redaksi terkait hampir 100 korban. Dalam surat tersebut, para pengacara menyatakan bahwa kesalahan ini tidak bisa dijelaskan dengan alasan apapun, termasuk kegagalan institusi.
Salah satu contoh yang disebutkan adalah adanya nama seorang korban yang terpampang sebanyak 20 kali dalam satu dokumen. Setelah laporan diberikan kepada DOJ, hanya tiga kesalahan yang berhasil diperbaiki, sementara 17 lainnya masih belum diperbaiki. Hal ini menunjukkan bahwa proses redaksi yang dilakukan oleh DOJ tidak efektif.
Selain itu, terdapat email yang diduga berisi daftar 32 korban di bawah umur dengan hanya satu nama yang dikoreksi dan 31 lainnya tetap terlihat. Dokumen-dokumen seperti FBI “302” forms juga ditemukan tanpa redaksi nama korban sepenuhnya.
Respons DOJ dan Penjelasan dari Pejabat Pemerintah
DOJ merespons dengan menyatakan bahwa semua dokumen yang diminta oleh korban atau pengacara telah dihapus dan akan diproses kembali. Mereka mengklaim bahwa tim mereka bekerja tanpa henti untuk memperbaiki kesalahan yang ditemukan.
Todd Blanche, Wakil Jaksa Agung AS, mengakui bahwa ada kesalahan yang terjadi. Ia menjelaskan bahwa jumlah dokumen yang dikelola sangat besar, sehingga kemungkinan kesalahan menjadi lebih tinggi. Namun, ia menegaskan bahwa setiap laporan yang masuk akan segera ditangani.
Dampak pada Korban dan Ancaman yang Muncul
Surat tersebut juga mencantumkan pernyataan dari beberapa korban anonim yang mengalami ancaman dan intimidasi dari media. Salah satu korban, yang dikenal sebagai Jane Doe, mengatakan bahwa rilis informasi ini tidak hanya menyakitkan tetapi juga membahayakan keselamatan dirinya dan anaknya.
Pengacara korban menegaskan bahwa tugas DOJ seharusnya sederhana: menghapus nama korban dari seluruh dokumen sebelum diterbitkan. Jika hal ini dilakukan, kerugian yang terjadi bisa dihindari.
Langkah yang Harus Diambil
Henderson menekankan bahwa setiap detik yang berlalu semakin banyak kerugian yang dialami korban. Mereka merasa takut, sedih, dan memohon perlindungan dari pemerintah. DOJ sebelumnya menyatakan bahwa mereka sangat serius dalam melindungi korban dan telah menghapus ribuan nama korban dari dokumen yang diterbitkan.
Meski demikian, para pengacara tetap meminta pengadilan untuk mengambil langkah lebih lanjut agar kesalahan serupa tidak terjadi lagi. Mereka menilai bahwa tindakan cepat dan transparan diperlukan untuk melindungi korban dan memberikan keadilan.***

>

Saat ini belum ada komentar