Saham BUMI Alami Penurunan Tajam, Investor Tertarik dengan Potensi Kenaikan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 5 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami penurunan signifikan dalam sesi perdagangan Rabu (28/1/2026). Pada awal perdagangan, saham emiten Grup Bakrie dan Salim ini turun hingga 14,53% dan berada di bawah level Rp 294. Meski posisi saham tersebut stabil sekitar pukul 09.22 WIB, terdapat indikasi bahwa investor asing sedang melakukan aksi jual besar-besaran.
Berdasarkan data dari aplikasi Stockbit Sekuritas, saham BUMI mencatatkan net buy sebesar Rp 238,8 miliar, yang menjadi yang terbesar dibandingkan saham-saham lainnya. Volume transaksi juga cukup tinggi, dengan sekitar 1,26 miliar saham telah diperdagangkan pada pukul 09.23 WIB. Frekuensi transaksi mencapai 50 ribu kali dengan nilai transaksi total sebesar Rp 372 miliar.
Faktor Penyebab Penurunan Harga Saham BUMI
Penurunan harga saham BUMI terjadi sejalan dengan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga mengalami penurunan. Hal ini dipengaruhi oleh pengumuman MSCI terkait hasil konsultasi mengenai penilaian free float saham emiten Indonesia, yang dirilis pada Selasa (27/1/2026).
Menurut analisis dari BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), MSCI menyimpulkan bahwa data kepemilikan saham di Indonesia masih kurang transparan. Saat ini, saham BUMI sempat dijagokan masuk ke dalam indeks MSCI Global Standard untuk periode Februari 2026. Namun, perubahan regulasi atau ketidakjelasan data kepemilikan saham memicu ketidakpastian di pasar.
Aksi Pembelian Investor Domestik
Meskipun mengalami tekanan jual dari investor asing, saham BUMI tetap mendapatkan dukungan dari investor domestik. Beberapa broker ternama seperti Sucor Sekuritas, Trimegah Sekuritas, Mirae, dan Maybank mencatatkan net buy di saham BUMI. Jumlah net buy masing-masing mencapai Rp 77 miliar, Rp 45,9 miliar, Rp 37,6 miliar, dan Rp 33,2 miliar.
Pembelian besar-besaran ini menunjukkan bahwa investor lokal melihat potensi kenaikan harga saham BUMI di masa depan. Meski saat ini mengalami penurunan, kondisi pasar bisa berubah cepat tergantung pada berbagai faktor eksternal dan internal perusahaan.
Perkembangan Sebelumnya
Sebelumnya, saham BUMI sempat bangkit 3,61% ke Rp 344 pada akhir perdagangan Selasa (27/1/2026). Meski menghadapi tekanan jual asing, saham emiten pertambangan ini berhasil naik karena aksi beli dari investor domestik. Namun, situasi berubah drastis pada sesi perdagangan Rabu pagi.
Perubahan tren ini menjadi perhatian bagi para analis pasar, yang mulai memperkirakan kemungkinan adanya perubahan strategi atau kebijakan baru dari pihak manajemen BUMI.
Prediksi dan Analisis Pasar
Analisis dari BRIDS menunjukkan bahwa penurunan harga saham BUMI tidak hanya disebabkan oleh isu free float, tetapi juga oleh sentimen pasar secara keseluruhan. Kondisi ekonomi makro, fluktuasi nilai tukar, serta kebijakan moneter Bank Indonesia juga turut memengaruhi kinerja saham BUMI.
Namun, beberapa ahli pasar percaya bahwa penurunan ini bersifat sementara. Jika ada perbaikan dalam transparansi data kepemilikan saham dan peningkatan kinerja operasional perusahaan, saham BUMI bisa kembali naik dalam waktu dekat.
Kesimpulan
Saham BUMI mengalami penurunan tajam di sesi perdagangan Rabu (28/1/2026), diduga dipengaruhi oleh isu free float dan aksi jual asing. Meskipun demikian, investor domestik masih menunjukkan minat kuat terhadap saham ini. Dengan dukungan dari beberapa broker besar, potensi kenaikan harga saham BUMI tetap terbuka, terlebih jika ada perbaikan dalam kondisi pasar dan kinerja perusahaan.

>

Saat ini belum ada komentar