Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » PERISTIWA » DAERAH » Sejarah Perjuangan Jakarta Menghadapi Banjir

Sejarah Perjuangan Jakarta Menghadapi Banjir

  • account_circle Diagram Kota
  • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DIAGRAMKOTA.COM – Banjir di Jakarta bukanlah isu baru, melainkan masalah yang telah menghantui kota ini selama ratusan tahun. Dari catatan sejarah, banjir besar pertama kali tercatat terjadi pada 1621, ketika kota yang dulu dikenal sebagai Batavia masih dalam masa kolonial. Setiap era pemerintahan, baik kolonial maupun pascakemerdekaan, selalu menghadapi tantangan serupa: air yang meluap setiap musim hujan dan solusi yang terasa tidak cukup.

Namun, ada satu tokoh yang berhasil membuat Jakarta nyaris bebas dari ancaman banjir. Sosok tersebut adalah Hendrik van Breen, seorang insinyur asal Belanda yang menjadi arsitek utama sistem pengendalian banjir modern pertama di ibu kota.

Latar Belakang Hendrik van Breen

Hendrik van Breen lahir di Amsterdam pada 28 Mei 1881. Ia menempuh pendidikan teknik sipil di Polytechnische School Delft sebelum bergabung dengan Burgerlijke Openbare Werken (BOW), dinas pekerjaan umum pemerintah kolonial Hindia Belanda. Awalnya ia ditempatkan di Jember, namun karier cepat membawanya ke Batavia.

Pada 1911, van Breen dipanggil ke Batavia dan ditunjuk sebagai Kepala Kantor Pengairan. Tantangan yang dihadapinya sangat berat: mengendalikan banjir yang selama ratusan tahun tak pernah bisa ditaklukkan.

Pendekatan Inovatif Van Breen

Sejarawan Restu Gunawan dalam bukunya Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta Dari Masa ke Masa (2010) mencatat bahwa salah satu kesadaran penting yang dimiliki van Breen adalah pemikiran bahwa banjir Jakarta tidak hanya disebabkan oleh hujan lokal. Faktor utamanya adalah air kiriman dari Sungai Ciliwung yang bermuara dari Bogor.

Dari pemikiran ini, lahir gagasan pembangunan Bendung Katulampa. Awalnya bersifat sementara, bendung ini kemudian dirancang permanen. Pada 10 April 1911, BOW mengajukan proposal pembangunan dengan anggaran 66.200 gulden dan disetujui pemerintah kolonial hanya tiga hari berselang. Bendungan tersebut dibangun dari plesteran semen dan dilengkapi jembatan di atasnya.

Ujian Berat dan Solusi Radikal

Keberadaan Katulampa memungkinkan banjir kiriman dari Bogor dikendalikan. Namun, ujian sesungguhnya datang tujuh tahun kemudian. Jakarta diguyur hujan lebat selama dua bulan berturut-turut. Sungai Ciliwung meluap, kawasan-kawasan vital terendam, dan roda ekonomi lumpuh.

Bencana besar 1918 memaksa pemerintah kolonial mengambil langkah lebih radikal. Dalam rapat Dewan Kota pada 18 Februari 1918, diputuskan percepatan pembangunan kanal banjir. BOW pun mengajukan anggaran besar, mencapai 500 ribu gulden.

Van Breen memiliki konsep sederhana namun visioner. Air dari hulu tidak boleh seluruhnya masuk kota. Volume dan debitnya harus dibatasi dengan cara dialihkan ke pinggiran sebelum bermuara ke laut, sekaligus menampung limpasan dari hujan lokal.

Proyek Infrastruktur yang Menyelamatkan Jakarta

Dari konsep itu, Banjir Kanal Barat dibangun. Kanal ini membentang dari Manggarai ke arah barat hingga Karet, lalu berbelok ke utara dan bermuara di Muara Angke. Proyek tersebut sebenarnya telah dimulai sejak 1912 dan dipimpin langsung oleh van Breen.

Tidak berhenti di situ, van Breen juga menginisiasi pembangunan Pintu Air Manggarai dan Pintu Air Matraman, melakukan normalisasi Kali Sunter serta Kali Cideng, hingga merancang kanal di sisi timur kota—yang kelak menjadi embrio Banjir Kanal Timur. Meski demikian, proyek Banjir Kanal Timur baru benar-benar digarap serius setelah Indonesia merdeka.

Warisan yang Masih Bertahan

Berkat rangkaian proyek itu, banjir Jakarta sempat berhasil dikendalikan dan nyaris menghilang. Namun, keberhasilan tersebut tidak berlangsung lama. Pertumbuhan kota yang masif, perubahan tata ruang, dan tekanan penduduk membuat banjir kembali menjadi langganan.

Meski demikian, lebih dari seabad berselang, infrastruktur rancangan Hendrik van Breen masih menjadi tulang punggung sistem pengendalian banjir Jakarta. Sosoknya pun tercatat sebagai satu-satunya tokoh dalam sejarah yang pernah membuat ibu kota benar-benar “bernapas” dari banjir, meski hanya untuk sementara waktu.***

 

Penulis

Berita Hari ini Terbaru dan Terkini Diagramkota.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Barcelona Siap Lepas Marc-Andre Ter Stegen dengan Harga Murah

    Barcelona Siap Lepas Marc-Andre Ter Stegen dengan Harga Murah

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 95
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Barcelona sedang menghadapi keputusan penting terkait masa depan salah satu pemain kunci mereka, Marc-Andre Ter Stegen. Pemain berusia 33 tahun ini telah menjadi bagian dari sejarah klub selama bertahun-tahun, tetapi situasi saat ini menunjukkan bahwa ia mungkin akan meninggalkan Camp Nou dalam waktu dekat. Menurut laporan terbaru, Barcelona bersedia menerima tawaran pinjaman sebesar 1 […]

  • América , Juárez

    Kondisi Buruk Tim América Pasca Kekalahan dari Juárez

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 22
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Tim Águilas del América kembali mengalami kekalahan dalam pertandingan Liga MX, kali ini dengan skor 2-1 melawan Bravos de Ciudad Juárez. Kekalahan ini terasa lebih menyakitkan karena terjadi di kandang sendiri, memperparah situasi yang sudah tidak stabil bagi klub asal Meksiko tersebut. Selain itu, Víctor Dávila harus meninggalkan lapangan lebih awal setelah mengalami […]

  • FESyar Jawa 2025, BI Targetkan Business Matching Rp35 Miliar

    FESyar Jawa 2025, BI Targetkan Business Matching Rp35 Miliar

    • calendar_month Jumat, 12 Sep 2025
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 239
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Jawa Timur kembali dipercaya menjadi tuan rumah Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2025 yang dibuka di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Jumat (12/9). Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan FESyar bukan sekadar acara seremonial, melainkan gerakan sosial-ekonomi lintas sektor. “FESyar dapat meningkatkan kesadaran, mengubah paradigma dari sekadar transaksi halal menjadi gaya […]

  • Promosikan Pariwisata Desa di Sidoarjo, Pemkab Sidoarjo Launching dan Kukuhkan Satu Desa Satu Duta Pariwisata

    Promosikan Pariwisata Desa di Sidoarjo, Pemkab Sidoarjo Launching dan Kukuhkan Satu Desa Satu Duta Pariwisata

    • calendar_month Selasa, 14 Jan 2025
    • account_circle Adis
    • visibility 250
    • 0Komentar

    Diagramkota.com – Pemkab Sidoarjo promosikan destinasi wisata desa yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Salah satu caranya dengan menggandeng muda mudi Sidoarjo. Mereka dijadikan Duta Pariwisata disetiap desa. Siang tadi, Selasa, (14/1), Pemkab Sidoarjo melaunching sekaligus mengkukuhkan Satu Desa Satu Duta Pariwisata. Pengukuhan dilakukan Plt. Bupati Sidoarjo H. Subandi di pendopo Delta Wibawa. Ada 164 orang […]

  • Dinamika Politik Israel dan Peran Konflik dengan Iran

    Dinamika Politik Israel dan Peran Konflik dengan Iran

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 12
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Konflik antara Israel dan Iran saat ini menjadi salah satu faktor utama yang memengaruui dinamika politik dalam negeri. Banyak analis mengatakan bahwa arah dan durasi perang ini sangat berpengaruh terhadap situasi politik di Israel. Salah satu isu yang menarik perhatian adalah dugaan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sengaja melancarkan serangan ke Iran sebelum tenggat […]

  • Josiah Michael DPRD Surabaya

    DPRD Surabaya Kritik Rencana Pemkot Bangun Lapangan Padel di Eks THR

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 249
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membangun lapangan padel di kawasan eks kolam renang Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya mendapat kritik tajam dari DPRD. Anggota Komisi C DPRD Surabaya, Josiah Michael, menilai rencana tersebut tidak tepat jika menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Ia beralasan, olahraga padel belum memiliki basis peminat yang […]

expand_less