Banjir Bandang di Situbondo: Kehancuran yang Mengguncang Kehidupan Warga
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Banjir bandang yang melanda Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada Rabu (21/1/2026), menjadi bencana alam yang menghancurkan kehidupan ribuan warga. Dampaknya sangat luar biasa, baik secara fisik maupun psikologis. Banyak rumah rusak berat, harta benda hilang, dan mata pencaharian para korban terengah-engah. Peristiwa ini juga menimbulkan korban jiwa, menjadikannya momen paling menyedihkan bagi masyarakat setempat.
Kondisi Rumah yang Hancur Total
Salah satu korban yang ditemui adalah Halid Firdausi (40), seorang buruh tani dari Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur. Ia mengungkapkan bahwa banjir bandang yang datang tiba-tiba menghancurkan rumah semi permanennya. Dinding samping dan belakang rumah jebol dalam sekejap, membiarkan air serta material seperti lumpur, kayu, dan ranting masuk ke dalam rumah. “Saya tidak menyangka akan terjadi banjir bandang sebesar ini,” katanya dengan suara sedikit bergetar.
Selain rumah, toko kecil milik istrinya juga hancur. Toko tersebut berukuran 1,5 meter X 2 meter, tempat istri Halid menjual barang dagangan. Semua isi toko, termasuk pakaian dan perabotan, lenyap terbawa banjir. “Pakaian dan seragam anak, kasur, dan perabotan lainnya sudah lenyap terbawa banjir,” tambahnya.
Dampak Luas di Berbagai Wilayah
Desa Lubawang bukan satu-satunya yang terdampak. Sebanyak 440 unit rumah di daerah itu mengalami kerusakan parah. Di wilayah lain, seperti Desa Kalianget, sebanyak 246 unit rumah terkena dampak banjir. Di Kecamatan Besuki, 5.425 rumah terendam banjir, dengan rincian: 2.882 rumah di Desa Pesisir, 193 rumah di Desa Kalimas, 44 rumah di Desa Demung, dan 2.306 rumah di Desa Besuki.
Banjir juga menimpa beberapa desa lainnya, seperti Desa Mlandingan Wetan dan Selomukti, dengan masing-masing 113 dan 169 rumah terdampak. Di Kecamatan Kendit, sebanyak 154 rumah terendam. Selain itu, banjir juga menggenangi jalur pantura di Dusun Kembangsambi, Desa Pasir Putih, Kecamatan Bungatan, sehingga akses jalan tertutup selama sembilan jam.
Korban Jiwa dan Kerugian Material
Banjir bandang tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga menelan korban jiwa. Abdul Wahed (45) dan putrinya, Adinda Putri Rahayu, tersengat listrik saat banjir. Kejadian ini menjadi momen menyakitkan bagi keluarga mereka dan warga sekitar.
Selain itu, banyak kebutuhan dasar seperti sandang dan pangan hilang akibat banjir. Banyak warga yang harus bertahan hidup dengan sedikit atau tanpa persediaan. Namun, meski dalam kondisi sulit, banyak warga yang memilih untuk bertahan dan membantu membersihkan rumah mereka sendiri.
Respons Cepat Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah Kabupaten Situbondo langsung bergerak cepat untuk menangani dampak banjir. Dinas PUPP dan BPBD setempat bekerja sama dengan TNI, Polri, dan masyarakat untuk membersihkan material banjir seperti batu, pasir, dan lumpur. Selain itu, pemerintah juga mendirikan dapur umum untuk menyediakan makanan bagi warga terdampak.
Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah menyampaikan bahwa dapur umum telah mulai beroperasi di Kantor Kecamatan Besuki. Tujuan pendirian dapur umum ini adalah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan respons cepat dalam penanggulangan bencana, sekaligus menjadi pusat distribusi bantuan.
Solidaritas Masyarakat
Banjir bandang juga menggugah solidaritas masyarakat. Banyak warga yang turut membantu dengan membuka donasi melalui grup WhatsApp “Forum Diskusi Situbondo (FDS)”. Gerakan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai tolong-menolong masih tinggi di tengah kesulitan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bencana alam bisa terjadi kapan saja, dan pentingnya kesiapsiagaan serta kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapinya. Meskipun ada kerugian besar, semangat dan kebersamaan tetap menjadi kunci untuk bangkit kembali.***

>

Saat ini belum ada komentar