Tensi Hubungan AS-Denmark Meningkat Akibat Ancaman Terhadap Greenland
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Tensi antara Amerika Serikat (AS) dan Denmark meningkat setelah beberapa pernyataan yang dianggap provokatif dari tokoh-tokoh partai Republik, khususnya terkait keinginan untuk mengakuisisi wilayah Greenland. Peristiwa ini memicu kekhawatiran akan ancaman serangan militer terhadap pulau terbesar di dunia yang masih menjadi bagian dari Kerajaan Denmark.
Sebelumnya, presiden AS, Donald Trump, menunjuk Jeff Landry, gubernur Louisiana, sebagai utusan khusus untuk Greenland. Landry menyampaikan rasa terima kasih atas penunjukan tersebut dengan menyatakan bahwa ia berharap dapat membantu menjadikan Greenland bagian dari AS. Pernyataan ini menimbulkan reaksi dari pihak Denmark, yang menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan wilayah mereka diambil alih oleh negara lain.
Pada saat yang sama, mantan Wakil Presiden AS, JD Vance, melakukan kunjungan ke pangkalan militer AS di Pituffik, Greenland. Kunjungan ini dilakukan pada Maret 2025 dan dianggap sebagai tanda kepentingan strategis AS terhadap wilayah tersebut. Dalam wawancara dengan NBC, Trump menyatakan bahwa ia tidak menutup kemungkinan untuk mengambil alih Greenland jika diperlukan.
Ancaman Militer dan Kekhawatiran Internasional
Kemunculan ancaman militer terhadap Greenland telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat internasional. Wilayah ini memiliki posisi strategis yang penting bagi keamanan global, terutama dalam konteks persaingan antara AS, Tiongkok, dan Rusia di wilayah Arktik. Selain itu, Greenland juga kaya akan sumber daya mineral, termasuk logam langka yang sangat dibutuhkan dalam industri teknologi modern.
Sejumlah analis militer menilai bahwa ancaman AS terhadap Greenland bukanlah hal yang mustahil. Jennifer Kavanagh, direktur analisis militer di Defense Priorities, menyatakan bahwa pihaknya awalnya meremehkan ancaman Trump, tetapi kini mulai khawatir. Menurutnya, AS bisa dengan mudah mengirimkan pasukan ke Greenland tanpa adanya tindakan signifikan dari pihak lain.
Tanggapan dari Pemerintah Denmark dan Greenland
Pemerintah Denmark dan Greenland secara tegas menolak ancaman tersebut. Mereka menegaskan bahwa batas negara dan kedaulatan negara-negara harus dihormati sesuai hukum internasional. Dalam sebuah pernyataan bersama, Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, dan Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menegaskan bahwa “Anda tidak bisa mengakuisisi negara-negara lain.”
Selain itu, sebagian besar penduduk Greenland, yang jumlahnya sekitar 57.000 orang, ingin menjadi negara merdeka tetapi tidak ingin menjadi bagian dari AS. Survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Greenland tidak memiliki keinginan untuk bergabung dengan AS, meskipun mereka menginginkan kemerdekaan sepenuhnya dari Denmark.
Reaksi dari Dunia Internasional
Reaksi terhadap ancaman AS terhadap Greenland juga datang dari berbagai pihak internasional. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengecam ancaman Trump selama kunjungannya ke Greenland. Sementara itu, Danish Defence Intelligence Service baru-baru ini menetapkan AS sebagai ancaman keamanan, yang merupakan perubahan besar dalam hubungan transatlantik.
Selain itu, Denmark juga memperkuat pengawasan terhadap aktivitas AS di wilayah tersebut. Pihak berwenang Denmark menyatakan bahwa mereka akan terus memantau tindakan AS dan siap bertindak jika diperlukan.
Ancaman AS terhadap Greenland telah memicu ketegangan yang signifikan antara dua negara. Meskipun AS menegaskan bahwa mereka hanya ingin menjaga keamanan global, pihak Denmark dan Greenland menolak segala bentuk ancaman terhadap kedaulatan mereka. Dengan situasi geopolitik yang semakin rumit, masalah ini akan terus menjadi isu penting dalam hubungan internasional.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar