Prof. Zainuddin Maliki: Dana Desa Kuatkan Ketahanan Pangan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Selasa, 16 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Konsultan Menteri Desa dan Pemberdayaan Masyarakat, Prof. Zainuddin Malikimenyatakan bahwa keputusan Menteri Desa PDT yang menetapkan penggunaan 20 persen dana desa untuk memperkuat ketahanan pangan harus memberikan dampak yang nyata dan terukur.
Menurutnya, kemandirian pangan merupakan salah satu strategi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat sistem pertahanan nasional dan kedaulatan bangsa, sebagaimana tercantum dalam Asta Cita kedua Presiden RI tersebut.
Ditunjukkan dalam Asta Cita kedua bahwaPresiden Prabowomencoba memperkuat sistem keamanan negara serta mendorong kemandirian bangsa, salah satunya dengan mencapai ketercukupan pangan dalam sektor pertanian,” ujar Prof. Zainuddin Maliki saat FGD di Balai Desa Riyung, Senori Kabupaten Tuban, Senin (15/12/2025).
Dalam forum diskusi dengan tema Peran Bumdes dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan, anggota DPR RI periode 2019-2024 menekankan bahwa swasembada pangan berkaitan erat dengan pertahanan nasional dan kemandirian bangsa.
Dengan strategi posisi swasembada pangan, Menteri Desa Yandri Susanto menegaskan bahwa 20 persendana desasangat digunakan untuk mendukung kemandirian pangan.
Di hadapan Kepala Desa, pengurus Bumdes, pendamping desa, tokoh pemuda, serta masyarakat peserta FGD, Prof. Zainuddin yang juga menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Unit Kebijakan Strategis Kementerian Desa PDT, menekankan pentingnya memperhatikan tiga pilar utama ketahanan pangan di desa.
Pertama, ketersediaan pangan dengan meningkatkan produksi berdasarkan potensi daerah setempat. Selanjutnya, akses dan kemudahan mendapatkan pangan melalui penguatan distribusi serta lembaga ekonomi di desa, serta kelangsungan sistem pangan desa juga sangat penting.
Di sini, diperlukan inovasi, teknologi yang sesuai, serta penguatan kemampuan masyarakat. Namun, ketika turun ke lapangan sebelum FGD dimulai, Zainuddin sempat berdiskusi dengan petani mengenai hasil panen padi sebesar 4 hingga 5 ton per hektare.
“Di Karawang terdapat inovasi yang berhasil meningkatkan hasil panen menjadi tujuh hingga delapan ton per hektare,” katanya.
Zainuddin sendiri menyaksikan kabel yang digunakan untuk mengalirkan arus listrik di tepi sawah, sebuah metode pemberantasan tikus yang pasti berisiko. Padahal, telah ditemukan sensor yang mampu mengenali keberadaan lubang tikus sehingga mempermudah pemberantasan hama dengan risiko yang lebih kecil.
“Intinya, dukungan terhadap program swasembada pangan memerlukan adanya inovasi,” katanya.
Untuk memastikan manfaat dana desa yang positif, katanya, sebaiknya Pemerintah Desa menerapkan strategi octahelix. Tingkatkan peran Bumdes dan Kopdes. Libatkan pihak pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, media, lembaga keuangan, komunitas sosial, bahkan juga TNI dan Polri.
TNI dan Polri yang memiliki Satuan TugasKetahanan Pangandapat membantu memberikan pendampingan di lapangan, pengamanan distribusi, pemanfaatan lahan produktif secara optimal, serta memperkuat disiplin dan partisipasi masyarakat,” katanya.
Dengan pendekatan kolaboratif, Prof. Zainuddin yakin bahwa 20% dana desa akan memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional dari level dasar.
Hal yang sama pentingnya perlu diperhatikan, pengelolaan Dana Desa tidak boleh berhenti pada penyerapan anggaran. “Harus memberikan dampak terhadap produksi, pendapatan, serta ketahanan pangan keluarga di desa,” katanya. ***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar