Ringkasan Berita:
- Kylian Mbappe dicoret dari skuad timnas Prancis di Nations League akibat cedera tendon lutut usai mencetak gol kontra Turki.
- Pelatih Zinedine Zidane dan FFF memutuskan memulangkan penyerang Real Madrid tersebut ke Spanyol demi mencegah risiko lanjutan.
- Cedera tendon lutut menyerang jaringan patela atau kuadrisep, memicu pembengkakan, nyeri sendi, hingga penurunan stabilitas gerak.
DIAGRAMKOTA.COM — Penyerang sekaligus kapten tim nasional Prancis, Kylian Mbappe, terpaksa dicoret dari daftar skuad Les Bleus pada lanjutan kompetisi UEFA Nations League. Bintang Real Madrid berusia 27 tahun tersebut ditarik keluar lapangan akibat mengalami cedera lutut, sesaat usai menjadi pahlawan dengan mencetak gol penentu kemenangan atas Turki.
Mbappe sejatinya sempat mendapatkan pertolongan pertama dari tim medis dan mencoba melanjutkan pertandingan. Namun, hanya berselang satu menit setelah kembali menginjak rumput lapangan, ia kembali tumbang dan tidak mampu melanjutkan duel. Situasi tersebut memaksa tim pelatih mengambil tindakan protektif cepat demi keselamatan sang kapten.
“Sayangnya, kondisinya terlihat kurang bagus. Saya pikir dia harus kembali [ke klub]. Kami tidak akan mengambil risiko apa pun. Ada pembengkakan di lututnya. Ini tidak menggembirakan, jadi kami tidak ingin berspekulasi,” tegas Pelatih Timnas Prancis, Zinedine Zidane, dikutip dari CNA.
Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) secara resmi mengonfirmasi bahwa sang penyerang mengalami masalah “cedera tendon lutut” dan langsung dipulangkan ke Madrid untuk menjalani program penanganan medis intensif serta pemulihan.
Mengenal Cedera Tendon Lutut Kylian Mbappe: Kerusakan Pita Serat Penopang Kaki
Dikutip dari penjelasan medis Spire Hip and Knee Centre Singapore, cedera tendon lutut merupakan kondisi terjadinya kerusakan atau robekan pada jaringan pita serat kuat yang mengikat otot ke tulang di sekitar persendian lutut. Jaringan tendon ini memegang fungsi mekanis vital untuk mengunci stabilitas sendi sekaligus memfasilitasi kelenturan tungkai kaki saat bergerak aktif.
Dalam lanskap ortopedi olahraga, gangguan pada area lutut umumnya menyasar dua struktur anatomi utama:
- Tendon Patela: Jaringan yang mengaitkan bagian tempurung lutut (patella) secara langsung ke tulang kering (tibia).
- Tendon Kuadrisep: Penghubung antara kelompok otot paha depan (quadriceps) dengan tempurung lutut.
Kerusakan pada sistem serat ini umumnya dipicu oleh tekanan berulang tanpa jeda istirahat (overuse), gerakan eksplosif yang memicu regangan ekstrem tiba-tiba, hingga benturan trauma fisik secara langsung di lapangan.
Gejala Klinis: Sensasi Sendi Lemas hingga Keterbatasan Rentang Gerak
Intensitas gejala yang ditimbulkan akibat cedera tendon lutut sangat bervariasi bergantung pada skala keparahan robekan jaringan. Sederet tanda fisik yang wajib diwaspadai meliputi:
- Nyeri Tajam Tempurung Lutut: Munculnya rasa sakit menusuk yang terlokalisasi tepat di bawah atau di atas tempurung lutut.
- Pembengkakan Cepat: Respons inflamasi menyebabkan cairan menumpuk di sekitar jaringan yang rusak, membuat lutut kaku serta sukar ditekuk atau diluruskan.
- Sendi Tidak Stabil: Lutut kehilangan daya sangga atau terasa lemas (mleyot) saat dipaksa menumpu beban berat tubuh.
- Keterbatasan Rentang Gerak (ROM): Penurunan kelenturan sendi yang signifikan hingga penderita tidak mampu meregangkan kaki secara penuh.
- Kesulitan Berjalan: Pada kasus robekan tingkat lanjut, atlet atau pasien akan kehilangan kapabilitas menahan pijakan saat melangkah.
4 Faktor Pemicu Kerusakan Tendon pada Olahraga Intensitas Tinggi
Aktivitas fisik berintensitas tinggi dengan ritme eksplosif menempatkan tendon pada ancaman stres mekanis yang sangat berat. Terdapat empat faktor risiko dominan yang kerap melandasi kasus ini:
- Penggunaan Berlebihan (Overuse): Beban gerak konstan seperti sprint berulang dan lompatan tinggi tanpa masa pemulihan adekuat yang memicu mikrorobekan (micro-tears) kronis.
- Gerakan Mendadak atau Benturan Fisik: Manuver mendarat canggung usai berduel di udara, perubahan arah lari secara mendadak (cutting movement), serta benturan langsung akibat tekel lawan.
- Ketidakseimbangan Otot: Tingkat elastisitas dan kekuatan yang minim pada otot paha depan, paha belakang (hamstring), maupun otot betis yang memaksa tendon menanggung beban kompensasi berlebih.
- Faktor Degenerasi Alami: Penurunan elastisitas serta degradasi kolagen alami pada serat tendon seiring pertambahan usia yang meningkatkan kerentanan jaringan terhadap robekan.

















