DIAGRAMKOTA.COM – Dalam beberapa hari terakhir, pasar keuangan global mengamati pergerakan signifikan yang dipicu oleh kebijakan pemerintah AS. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Rabu (19/8), mengumumkan peningkatan nominal dukungan likuiditas untuk buyback obligasi pemerintah AS tenor panjang. Kebijakan ini akan efektif pada periode 9 September–4 November 2026.
Perubahan dalam Buyback Obligasi Pemerintah AS
Sebelumnya, nominal buyback maksimum adalah US$2 miliar per operasi, namun kini ditingkatkan menjadi minimum US$4 miliar per operasi. Pengumuman ini datang di tengah kekhawatiran fiskal AS dan eskalasi konflik dengan Iran. Yield obligasi AS tenor 30 tahun menyentuh 5,34% pada Selasa (18/8), level tertinggi sejak 2007. Total utang AS juga melampaui US$40 triliun untuk pertama kalinya, naik 4x lipat dalam waktu kurang dari 20 tahun.
Dampak Pasar Global
Pengumuman ini memicu reaksi pasar. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun sekitar -7 bps ke level 4,64%, sementara indeks dolar AS (DXY) turun sekitar -0,9% ke level 98,8—terendah dalam 3 bulan terakhir. Harga emas naik sekitar +4% ke level US$4.520/oz. Di Asia, IHSG ditutup menguat sekitar +1,7% pada Kamis (20/8), sejalan dengan penguatan bursa Asia secara umum.
Tren Positif Rupiah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sedang berada dalam tren positif, dengan penguatan +2,4% dari level terlemahnya di ~18.190 pada 6 Agustus 2026. Sentimen positif bagi rupiah juga datang dari RAPBN 2027 yang lebih konservatif dan kepastian kebijakan Bank Indonesia.
Perusahaan Saham yang Menarik Perhatian
Beberapa saham menunjukkan kinerja positif. $BRMS, $AMMN, $HRTA, dan $ARCI mencatat kenaikan signifikan. Selain itu, $JARR menegaskan bahwa tidak ada rencana akuisisi BYAN. Sementara itu, $BBCA akan membagikan dividen interim senilai ~Rp3,1 T atau Rp25/saham. $BIPP dan $HATM juga merencanakan private placement.
Kebijakan BEI yang Baru
BEI berencana mengubah batasan harga minimum saham yang diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai dari Rp50/saham menjadi Rp1/saham. Uji coba bersama anggota bursa dijadwalkan pada 22 dan 29 Agustus 2026, dengan target implementasi per 7 September 2026.
Kekhawatiran Investor Terkait Dividen
Komunitas Stockbit membahas pentingnya memahami pola pergerakan pasca-ex-date. Kutipan dari komunitas Stockbit menyebutkan bahwa kemampuan emiten untuk menutup gap lebih penting daripada sekadar besaran dividend yield. Penurunan harga pada ex-date merupakan penyesuaian akuntansi yang logis, tetapi investor harus waspada terhadap “Pure Dividend Trap” yang sering terjadi pada emiten komoditas.
Pengumuman pemerintah AS tentang peningkatan buyback obligasi tenor panjang memberikan dampak signifikan terhadap pasar global. Harga emas melonjak, DXY turun, dan rupiah menguat. Investor perlu memperhatikan pergerakan pasar dan memahami strategi investasi yang tepat untuk mengoptimalkan return.


















