Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution, Surabaya Uji Pengurangan Sampah Plastik Melalui Perubahan Perilaku
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

(sdg.iisg.org)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya kembali menunjukkan inovasi dalam pengelolaan sampah. Kota ini menjadi lokasi peluncuran perdana program Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution, kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Norwegia untuk mengurangi pencemahan plastik di sungai sebelum bermuara ke laut.
Program ini didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Lingkungan Hidup, United Nations Development Programme (UNDP), dan Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL). Pelaksanaannya dilakukan di Kali Tebu dan Kali Merutu, dua aliran sungai yang sering tercemar sampah plastik.
Hasil Awal Menjanjikan
Menurut data yang dirilis, setiap hari rata-rata satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari kedua sungai tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa upaya penanggulangan sampah plastik bisa berjalan efektif jika dilakukan secara kolaboratif.
M. Fikser, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, menyampaikan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah sampah yang diangkat, tetapi juga dari perubahan perilaku masyarakat sekitar.
“Sungai yang sebelumnya dipenuhi sampah kini mulai terlihat lebih bersih. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai juga mulai tumbuh,” ujarnya.
Dampak Ekonomi Positif
Salah satu temuan penting dari program ini adalah adanya dampak ekonomi positif bagi warga sekitar. Sampah yang dikumpulkan tidak langsung dibuang, melainkan dipilah, disortir, dan dikemas untuk dijual kembali. Aktivitas ini membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat sekaligus mendorong ekonomi sirkular berbasis lingkungan.
Tantangan Masih Ada
Meski ada progres, tantangan masih cukup besar. Dari total 1.800 ton sampah harian, sekitar 600 ton masih berakhir di area landfill. Ini menunjukkan bahwa masalah sampah tidak cukup diselesaikan dengan pembersihan sungai semata, melainkan harus dimulai dari sumbernya melalui pemilahan dan pengurangan sampah rumah tangga.
Perubahan Perilaku Jadi Faktor Utama
Sri Morwani Nifadilastuti, Ketua Kelompok Kerja Perubahan Perilaku Masyarakat Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular, menegaskan bahwa perubahan perilaku menjadi faktor paling menentukan dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Ahmad Bahri Rambe, Koordinator Sekretariat TKN PSL, menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program. Selain pembersihan sungai, edukasi masyarakat terus diperkuat agar perubahan perilaku dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Peluncuran di Lima Wilayah
Pada tahap awal, program ini diterapkan di lima wilayah, yakni Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, Solo, dan Bali. Namun Surabaya menjadi daerah pertama yang dipercaya sebagai lokasi peluncuran. Pemerintah berharap praktik-praktik baik yang lahir dari Kota Pahlawan dapat direplikasi di berbagai daerah lain sehingga upaya mengurangi pencemaran plastik sungai dan laut dapat berjalan lebih efektif secara nasional.***

>

Saat ini belum ada komentar