Merawat Budaya Pertanian di Tengah Keramaian Surabaya, Berbagi Ilmu Tanpa Batas di Sekolah Alam
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban, sebuah inisiatif unik berusaha membangkitkan kembali nilai-nilai pertanian yang semakin terpinggirkan. Di wilayah Timur Surabaya, tempat yang dikelilingi oleh industri dan pemukiman padat, muncul sebuah ruang belajar yang mengajarkan anak-anak tentang pentingnya tanaman dan lingkungan. Proyek ini dibangun oleh Mohammad Zurqoni (54), seorang pria yang memilih untuk menjadikan lahan kosong sebagai tempat pembelajaran dan pengembangan ekosistem pertanian.
Ruang Belajar yang Berbeda
Zurqoni tidak hanya menjadi pelaku usaha kecil, tetapi juga seorang pendidik yang ingin memberikan ilmu gratis kepada anak-anak. Di samping kedainya yang bernama Waroeng Jadoel, ia memiliki area kebun kecil yang menjadi tempat interaksi langsung antara anak-anak dan alam. Di sini, mereka diajarkan cara menanam, merawat, dan memahami tanaman. Dari sayuran hingga rempah-rempah, semua tumbuh dengan bantuan kompos dan sistem daur ulang yang ramah lingkungan.
Kebun ini juga menjadi tempat pengolahan limbah organik menjadi pupuk. Kotoran dari kandang kuda dan sampah dapur diproses menjadi bahan dasar untuk menanam tanaman. Selain itu, cacing digunakan sebagai bahan pakan ayam, menciptakan siklus ekologis yang saling mendukung. Hal ini membuktikan bahwa pertanian tidak harus selalu terbatas pada lahan luas, tetapi bisa dilakukan bahkan di tengah kota.
Interaksi Langsung dengan Alam
Anak-anak yang datang ke lokasi ini tidak hanya belajar melalui buku atau video, tetapi secara langsung menyentuh tanah, melihat proses pertumbuhan tanaman, dan bahkan bermain di areal kebun. Mereka diberi kesempatan untuk memetik kangkung, melihat tanaman jahe tumbuh, dan memahami bagaimana lingkungan dapat dipelihara dengan cara sederhana. Interaksi ini memberikan pengalaman yang lebih mendalam dibandingkan metode pengajaran konvensional.
Zurqoni sering kali berdiri di dekat tanaman dan menjelaskan bagaimana setiap tanaman membutuhkan perawatan khusus. Ia juga membagikan cerita-cerita tentang pentingnya menjaga lingkungan dan menghargai sumber daya alam. Anak-anak yang awalnya tampak ragu, akhirnya mulai tertarik dan menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi.
Menciptakan Ruang Bersama
Selain kebun, Zurqoni juga menyediakan ruang untuk diskusi dan aktivitas sosial. Di sini, orang tua dan anak-anak bisa bersantai, berdiskusi, atau sekadar menikmati suasana alam yang segar. Meja mesin jahit tua dan kursi plastik menjadi bagian dari ruang ini, menciptakan suasana yang hangat dan ramah. Tempat ini juga menjadi panggung untuk kegiatan seni dan ekspresi, di mana anak-anak bisa mengekspresikan diri dengan cara yang kreatif.
Mewujudkan Pendidikan Berkelanjutan
Inisiatif Zurqoni adalah contoh nyata dari upaya membangkitkan kembali budaya agraris di tengah perkotaan. Ia percaya bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada teori, tetapi juga harus melibatkan pengalaman langsung. Dengan mengajarkan anak-anak cara bertani dan merawat lingkungan, ia berharap mereka akan menjadi generasi yang lebih sadar akan pentingnya keberlanjutan.
Dalam wawancaranya dengan Kompas.com, Zurqoni menyampaikan bahwa tujuan utamanya adalah untuk memberikan ilmu yang bermanfaat dan mendorong kesadaran lingkungan. “Saya ingin anak-anak belajar bahwa kita bisa hidup harmonis dengan alam, bahkan di tengah kota,” ujarnya.
Masa Depan yang Lebih Hijau
Proyek ini juga menjadi inspirasi bagi banyak pihak. Banyak orang mulai melihat bahwa pertanian tidak harus terbatas pada daerah pedesaan. Dengan inovasi dan kesadaran, kota-kota besar seperti Surabaya juga bisa menjadi tempat yang hijau dan berkelanjutan. Zurqoni menegaskan bahwa ia siap berbagi pengetahuannya kepada siapa pun yang tertarik, karena ia yakin bahwa perubahan dimulai dari langkah kecil.***

>
>
Saat ini belum ada komentar