Banjir Ketintang dan Margorejo, Solusi Inovatif Pemkot Surabaya untuk Mengatasi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya, kota yang terkenal dengan kepadatan penduduk dan infrastruktur yang kompleks, kini menghadapi tantangan besar dalam mengelola air. Salah satu wilayah yang sering terkena dampak banjir adalah Ketintang dan Margorejo. Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meluncurkan skema baru yang bertujuan mengubah cara kota ini mengelola aliran air.
Permasalahan Utama yang Dihadapi
Selama ini, penanganan banjir di Surabaya cenderung bersifat reaktif. Saat saluran drainase tersumbat, pihak berwenang langsung melakukan pembersihan. Jika pompa air rusak, mereka segera memperbaikinya. Namun, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menilai bahwa solusi ini tidak cukup. Ia melihat adanya kesalahan dalam desain sistem drainase yang menyebabkan beban air tidak merata.
Salah satu wilayah yang sering menjadi titik kritis adalah Margorejo. Air dari berbagai arah, termasuk dari Jambangan, Karah, dan bahkan dari jalan tol, semuanya bermuara ke sana. Akibatnya, setiap hujan deras, kawasan ini menjadi kolam raksasa yang tidak direncanakan.
Pendekatan Baru dalam Pengelolaan Air
Eri Cahyadi mengungkapkan bahwa sistem aliran air di Surabaya perlu diperbaiki secara mendasar. “Selama ini air menumpuk di Margorejo. Saya instruksikan agar aliran air dari arah Karah dan tol dipotong langsung masuk ke Rumah Pompa SWK Karah. Jangan semuanya lari ke Saluran Avur Wonorejo yang lewat Ketintang,” tegasnya.
Logika di balik pendekatan ini sangat sederhana. Jika satu saluran dipaksa menampung beban dari semua arah, maka kemungkinan besar saluran tersebut akan jebol. Oleh karena itu, solusinya bukan hanya memperbesar saluran, tetapi memecah beban sebelum air sampai ke sana.
Rencana Teknis yang Diterapkan
Menurut Kepala Bidang Drainase DSDABM Surabaya Adi Gunita, selama ini seluruh beban air dari sisi barat, termasuk kawasan tol, mengalir ke timur, menuju Avur Wonorejo. Semakin ke hilir, kapasitas saluran menuju Prapen makin menyempit. Hal ini menyebabkan luapan air yang tinggi.
“Rencananya, beban yang ada di Avur Wonorejo kita hentikan, lalu kita potong langsung ke arah Selatan menuju Sungai Kebon Agung. Dengan begitu, volume air yang lari ke saluran Prapen akan berkurang drastis,” jelas Adi.
Perubahan Aliran Air yang Signifikan
Skema yang disiapkan cukup ambisius. Pertama, aliran dari Ketintang Baru akan dibalik arahnya. Air dialihkan kembali ke saluran Kebon Agung melalui Central Park di kawasan Ahmad Yani dan Mang Kabayan. Hasilnya, saluran di Margorejo hingga Prapen akan menampung air dari permukiman setempat, bukan kiriman dari mana-mana.
Dengan perubahan ini, diharapkan dapat mengurangi risiko banjir di kawasan tersebut. Selain itu, sistem drainase yang lebih efisien juga akan membantu meningkatkan kualitas hidup warga.
Tantangan dan Peluang Masa Depan
Meskipun skema ini menunjukkan inovasi yang signifikan, implementasinya pasti akan menghadapi tantangan. Mulai dari koordinasi antarinstansi hingga pengelolaan anggaran. Namun, jika berhasil diterapkan, langkah ini bisa menjadi contoh bagi kota-kota lain yang menghadapi masalah serupa.
Dengan pendekatan yang lebih proaktif dan teknis, Surabaya berpotensi menjadi model dalam pengelolaan air yang berkelanjutan. Ini tidak hanya akan mengurangi risiko banjir, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi warganya.***

>

Saat ini belum ada komentar