Latar Belakang Hassan Rouhani Mantan Presiden Iran
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Hassan Rouhani adalah salah satu tokoh yang paling kompleks dalam sejarah Republik Islam Iran. Sebagai seorang ulama sekaligus teknokrat, ia pernah membawa Iran ke meja perundingan internasional. Meskipun pernah tersisih oleh sistem yang ia layani, namanya kembali naik ke permukaan setelah kematian Ali Khamenei, yang memicu pertanyaan besar tentang siapa pemimpin tertinggi Iran berikutnya.
Berikut ini adalah rekam jejak Hassan Rouhani:
Dari Sorkheh ke panggung internasional
Menurut informasi dari Britannica, Rouhani lahir dengan nama Hassan Fereydoun pada 12 November 1948 di Sorkheh, sebuah kota kecil di provinsi Semnan, Iran utara. Nama “Rouhani” yang dalam bahasa Persia berarti “spiritual” atau “ulama” baru ia adopsi belakangan, sebagian untuk menghindari pelacakan oleh dinas keamanan Iran saat ia aktif menentang rezim Shah.
Ia menempuh pendidikan hukum di Universitas Tehran dan lulus pada 1972, lalu melanjutkan studi ke Skotlandia. Hassan meraih gelar Ph.D dalam Hukum Konstitusi dari Glasgow Caledonian University pada 1999 dengan disertasi tentang fleksibilitas hukum Islam, perpaduan latar belakang yang kelak membentuk caranya mendekati politik: lewat negosiasi, bukan konfrontasi.
Karier panjang di jantung kekuasaan

Rouhani menghabiskan beberapa dekade di posisi-posisi strategis Republik Islam. Menurut Britannica, ia menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dari 1989 hingga 2005, anggota Majelis Ahli sejak 1999, serta anggota Dewan Kebijaksanaan.
Selama Perang Iran-Irak, ia bahkan sempat menjabat sebagai komandan pertahanan udara Iran. Di antara semua jabatan itu, perannya sebagai negosiator nuklir utama Iran antara 2003 hingga 2005 yang paling mengukuhkan reputasinya di kancah internasional, hingga ia dijuluki “syekh diplomat.”
Presiden yang lahir dari kompromi

Rouhani memenangi pemilu presiden 2013 dengan lebih dari 50 persen suara, menghindari putaran kedua. Namun, kemenangan itu sebagian besar terjadi karena kandidat-kandidat reformis dan moderat lainnya didiskualifikasi atau mengundurkan diri lebih dulu.
Hal itu menjadikan Rouhani satu-satunya suara moderat di antara deretan kandidat konservatif. Puncak masa jabatannya adalah kesepakatan nuklir 2015, dikenal sebagai JCPOA, yang membatasi program nuklir Iran dan membuka kembali hubungan diplomatik dengan Barat.
Jatuh karena dianggap terlalu lunak

Meskipun awalnya mendapat dukungan Khamenei, hubungan keduanya merenggang ketika Khamenei mengkritik Rouhani karena dianggap terlalu mengalah dalam negosiasi dengan Barat soal perjanjian nuklir. Setelah masa jabatan keduanya berakhir pada 2021, tidak ada satu pun jabatan senior yang diberikan kepadanya. Pada 2024, ia bahkan didiskualifikasi dari pencalonan untuk Majelis Ahli, badan yang ironisnya kini memegang kunci suksesi kepemimpinan tertinggi Iran.
Kematian Khamenei membalik kalkulasi itu seketika. Rouhani, dengan rekam jejak diplomatiknya, jaringan yang masih hidup di dalam sistem, dan citranya sebagai figur moderat, kini kembali menjadi nama yang relevan di tengah kekosongan kekuasaan. Di Iran yang sedang berperang dan mencari arah, pertanyaannya bukan lagi apakah Rouhani masih punya pengaruh, melainkan apakah Majelis Ahli berani memilih jalan yang berbeda dari garis keras yang selama ini mendominasi. ***

>

Saat ini belum ada komentar