Pendidikan Budaya, Aksara Jawa dan Bahasa Indonesia untuk 22 Mahasiswa Asing di Salatiga
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Program Intensif Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia (PIBBI) bersama Australian Consortium for in Country Indonesian Studies (ACICIS) menghadirkan pengalaman unik bagi 22 mahasiswa asing yang berkunjung ke Salatiga. Kali ini, para peserta diajak memahami lebih dalam tentang tradisi Manten dan aksara Jawa melalui kegiatan langsung di masyarakat setempat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran bahasa dalam program Indonesian Language Short Course. Dengan menggandeng Dr. Sri Suwartiningsih, Dekan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Komunikasi (FISKOM), peserta tidak hanya mendapatkan materi teoritis tetapi juga praktik langsung. Mereka diajarkan cara menulis aksara Hanacaraka atau Carakan serta mengikuti simulasi upacara Manten lengkap dengan busana Beskap dan Kebaya.
Pengalaman Langsung dalam Pembelajaran Budaya
R.P.N Dian Widi Sasanti, Kepala Sub Bagian Language Training Center (LTC) UKSW, menjelaskan bahwa seminar ini dilakukan untuk pertama kalinya sebagai bagian dari exposure culture. Biasanya, kegiatan seperti ini diadakan di LTC dengan mengundang narasumber, namun kali ini mereka ingin memberikan pengalaman lebih nyata dengan membawa peserta langsung ke lapangan.
“Belajar tentang beberapa kebiasaan dan menulis bahasa Jawa, karena mempelajari bahasa tidak lepas dari memahami budaya daerah itu,” ujar Dian. Ia berharap melalui pengalaman ini, peserta dapat meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia secara signifikan.
Antusiasme Peserta dan Perkembangan Bahasa
Setelah sesi materi, peserta diajak menikmati suasana pedesaan dengan berjalan kaki mengunjungi area persawahan dan mata air desa. Salah satu peserta, Yuki Oda, mahasiswa dari The University of Melbourne, Australia, mengungkapkan kesannya yang sangat positif.
“Kesan saya tentu sangat indah sekali. Padi di sini sangat tertata. Saya dari Tokyo dan di sana juga ada padi. Hanya saja yang membedakan di sana tidak ada sistem terasering,” katanya.
Selain Yuki, antusiasme juga terlihat dari keceriaan dan ragam pertanyaan yang bergulir, menunjukkan keterampilan mahasiswa dalam menyimak, menangkap informasi, serta berkomunikasi. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan keterampilan berbahasa Indonesia dengan baik.
Kay Lewins, peserta asal University of New England, Australia, berharap bisa berbicara dalam bahasa Indonesia lebih cepat dan baik, serta memiliki banyak teman lokal.
Pentingnya Memahami Budaya dalam Pembelajaran Bahasa
Pembelajaran bahasa tidak hanya terbatas pada tata bahasa dan kosakata, tetapi juga memperluas pemahaman tentang konteks budaya. Melalui program ini, peserta tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga merasakan langsung nilai-nilai tradisional yang terkandung dalam ritual Manten dan penggunaan aksara Jawa.
Dengan menggabungkan pendekatan pembelajaran langsung dan interaktif, program ini menjadi contoh inovatif dalam pendidikan bahasa dan budaya. Di tengah tantangan globalisasi, penting bagi generasi muda untuk memahami dan melestarikan warisan budaya lokal.
Kegiatan ini menunjukkan komitmen institusi pendidikan dalam mengedepankan pendekatan holistik dalam pembelajaran bahasa. Dengan menggabungkan teori dan praktik, peserta tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa tetapi juga memperdalam pemahaman terhadap kebudayaan Indonesia. Diharapkan, pengalaman ini akan menjadi fondasi kuat bagi peserta dalam menjalin hubungan lintas budaya dan memperkaya wawasan global mereka.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar