Makna dan Signifikansi Hari Suci Siwaratri dalam Budaya Bali
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 22 jam yang lalu
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Hari Suci Siwaratri memiliki makna mendalam dalam tradisi keagamaan dan budaya masyarakat Bali. Perayaan ini dirayakan setiap tahun pada malam purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih kepitu (bulan ke tujuh) dalam kalender Bali. Tahun ini, perayaan Siwaratri jatuh pada hari Sabtu, 17 Januari 2026. Dalam ajaran Hindu, Siwaratri mengandung makna spiritual yang tinggi, di mana malam ini menjadi momen penting untuk melakukan refleksi diri, introspeksi atas dosa-dosa yang telah diperbuat, serta memohon pengampunan kepada Dewa Siwa.
Kata “Siwaratri” berasal dari dua kata, yaitu “Siwa” dan “ratri”. “Siwa” merujuk pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam fungsi sebagai pelebur atau pemralina, sedangkan “ratri” berarti malam atau kegelapan. Oleh karena itu, Siwaratri sering dikaitkan dengan malam paling gelap dalam satu tahun, yang menjadi waktu ideal untuk menyucikan diri secara lahir dan batin.
Praktik Brata Siwaratri: Pantangan yang Menjadi Ajaran Kehidupan
Dalam rangka merayakan Hari Suci Siwaratri, umat Hindu di Bali menjalani serangkaian pantangan yang disebut Brata Siwaratri. Tujuan dari praktik ini adalah untuk mengembalikan keseimbangan antara jasmani dan rohani, serta membersihkan diri dari segala bentuk kesalahan atau dosa.
Brata Siwaratri terdiri dari tiga komponen utama:
- Upawasa (berpuasa): Umat Hindu diwajibkan untuk tidak makan dan minum selama malam Siwaratri. Puasa ini bukan hanya sekadar mengendalikan nafsu makan, tetapi juga menjadi latihan untuk mengontrol hawa nafsu dan meningkatkan kesadaran diri.
- Monabrata (tidak berbicara): Tidak berbicara dalam konteks ini bukan berarti diam sepenuhnya, melainkan lebih berhati-hati dalam menggunakan perkataan. Umat diajarkan untuk berpikir sebelum berbicara, sehingga kata-kata yang diucapkan dapat membawa dampak positif.
- Jagra (tidak tidur): Umat Hindu diharuskan untuk berjaga sepanjang malam. Ini melambangkan kewaspadaan dan kesadaran penuh terhadap diri sendiri. Dengan tidak tidur, manusia diajak untuk melawan kebiasaan malas dan kelemahan dalam dirinya.
Melalui ketiga prinsip ini, Brata Siwaratri menjadi alat untuk mengembangkan kesadaran batin dan memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah Lubdaka: Simbol Pengampunan dan Penyadaran Diri
Salah satu cerita legendaris yang sering dikaitkan dengan Hari Suci Siwaratri adalah kisah Lubdaka. Cerita ini memberikan gambaran tentang bagaimana seseorang bisa mendapatkan pengampunan dari Dewa Siwa meskipun pernah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya.
Lubdaka adalah seorang pemburu yang pergi ke hutan untuk berburu. Namun, ia gagal menangkap mangsanya hingga malam tiba. Di tengah kegelapan, ia memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon bila. Tanpa menyadari bahwa malam itu adalah Siwaratri, ia melemparkan daun bila ke bawah. Daun tersebut akhirnya mengenai lingga pemujaan terhadap Dewa Siwa.
Pada malam itu, Lubdaka mulai menyesali perbuatan buruknya dan bertekad untuk berhenti menjadi pemburu. Setelah meninggal, rohnya dianggap akan dibawa ke neraka oleh pasukan raksasa Cikrabala. Namun, Dewa Siwa datang dan membela Lubdaka, mengingatkan bahwa meskipun ia pernah membunuh binatang, ia telah berjaga semalaman dan menyesali dosa-dosanya pada malam Siwaratri.
Cerita ini menjadi simbol bahwa pengampunan bisa diperoleh melalui kesadaran diri dan penyesalan yang tulus, meskipun ada kontradiksi dalam pandangan agama terkait hukum karma.
Pentingnya Nilai Spiritual dalam Kehidupan Modern
Nilai-nilai yang terkandung dalam Brata Siwaratri sangat relevan dalam kehidupan modern yang penuh tekanan dan godaan. Dengan mengendalikan diri, meningkatkan kesadaran batin, dan mampu menahan hasrat, manusia dapat menjaga keseimbangan dan keamanan hidupnya. Ajaran ini mengingatkan bahwa kesenangan sesaat tidak boleh membuat kita lupa akan nilai-nilai spiritual yang lebih mendalam.
Perayaan Siwaratri bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga momentum untuk memperbaiki diri dan menjalani kehidupan dengan lebih bijak. Dengan memahami makna dan arti dari hari suci ini, masyarakat Bali dan umat Hindu di seluruh dunia dapat merayakan dengan penuh makna dan kearifan.***





Saat ini belum ada komentar