Inovasi Pertanian di Situbondo: Lahan Bekas Banjir Jadi Agrowisata
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah tantangan lingkungan dan ekonomi, masyarakat Situbondo menunjukkan kreativitas dalam memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif. Salah satu contoh sukses adalah Sampean Green Farm (SGF), yang berada di Desa Kotakan, Kecamatan Kota. Lahan ini dulunya merupakan area yang terkena banjir bandang pada tahun 2008. Namun, kini lahan tersebut telah diubah menjadi kawasan agropreneur dan agrowisata yang memberikan nilai ekonomi signifikan.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, mengunjungi SGF untuk melihat langsung progres pengembangan lahan tersebut. Dalam kunjungannya, ia turut serta memetik buah alpukat dari kebun seluas 1,4 hektar. Ia menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif yang dilakukan oleh pemilik lahan, karena berhasil mengubah area yang sebelumnya terbengkalai menjadi kawasan yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Ini adalah bagian dari industri kreatif, enterpreneur. Bagus sekali, saya sangat mendukung kalau ada lahan-lahan yang tidak dimanfaatkan,” ujar Bupati Rio. Menurutnya, konsep agropreneur yang diterapkan di SGF tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi warga sekitar.
Pengembangan Komoditas Unggulan
Pemilik SGF, Herman, menjelaskan bahwa kawasan ini fokus pada pengembangan komoditas unggulan seperti alpukat, durian musang king, pisang cavendish, dan melon hidroponik. Konsumen dapat langsung datang ke lokasi untuk membeli hasil panen dengan harga yang lebih murah dibandingkan pasar umum.
“Menanam alpukat ini sangat mudah, tinggal tanam dari bibit, setelah hidup tinggal menyiram tiga hari satu kali,” jelas Herman. Selain itu, rencana pihaknya juga akan menambah tanaman semangka di lahan seluas 1,4 hektare. “Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui,” tambahnya.
Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan
Herman menekankan bahwa motivasi utama pengembangan SGF adalah menggabungkan aspek keuntungan ekonomi dengan upaya penghijauan lahan. Ia menjelaskan bahwa tujuan utama tidak hanya untuk mendapatkan profit, tetapi juga untuk menjaga lingkungan.
“Di sini gersang, awalnya orang tidak percaya di Situbondo tidak akan berbuah, hanya bisa tumbuh,” katanya. Dengan konsep ini, SGF menjadi model yang menunjukkan bahwa pertanian modern dapat berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.
Potensi Pasar dan Penjualan
Selain sebagai sentra pertanian, SGF juga dikembangkan sebagai kawasan agrowisata. Konsumen dapat langsung membeli hasil panen alpukat dengan volume penjualan mencapai satu hingga dua kuintal per hari. Harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan pasar umum.
“Harga Rp30 ribu per kilogram, ini sudah termurah di pasaran. Kalau di pasaran Rp50 ribu, di sini Rp30 ribu,” jelas Herman. Hal ini menunjukkan bahwa SGF tidak hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga menawarkan nilai ekonomi yang menarik bagi masyarakat.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar