IDX Sektor Perkembangan Sektor Barang Baku di Pasar Saham Indonesia
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BDIAGRAMKOTA.COM – Pasar saham Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan pada awal tahun 2026, khususnya sektor barang baku. Indeks sektor ini menjadi salah satu yang paling diminati oleh investor karena kinerjanya yang luar biasa. Hingga akhir Januari 2026, sektor barang baku mencatatkan pertumbuhan tertinggi dibandingkan indeks sektoral lainnya. Capaian ini menempatkan sektor barang baku sebagai primadona di pasar modal.
Faktor Pendorong Kenaikan Sektor Barang Baku
Beberapa faktor berkontribusi terhadap kenaikan sektor ini. Salah satunya adalah kenaikan harga emas yang signifikan hingga menembus US$ 5.000 per ons troi. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, yang mendorong minat investor pada aset lindung nilai. Dampaknya, saham-saham emiten terkait emas seperti ANTM, ARCI, dan BRMS ikut menguat.
Selain emas, harga nikel juga naik ke kisaran US$ 18.000 per ton. Kenaikan ini didorong permintaan baterai kendaraan listrik yang tetap kuat, di tengah rencana pemangkasan produksi nikel di dalam negeri. Kondisi tersebut mengangkat kinerja saham-saham emiten nikel.
Rekomendasi Investasi dari Analis
Chief Executive Officer Edvisor Provina Visindo, Praska Putrantyo, menilai bahwa kombinasi kenaikan harga emas dan nikel membuat investor berekspektasi peningkatan kinerja keuangan emiten logam dan mineral, terutama dari sisi profitabilitas. Ia menyarankan investor mencermati saham-saham di subsektor kimia dasar serta logam dan mineral yang melakukan diversifikasi usaha.
Analisis dari BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menunjukkan bahwa subsektor industri semen dan kertas, seperti SMGR, INTP, dan INKP, masih tergolong saham yang tertinggal. Meski demikian, fundamental emiten-emiten tersebut dinilai solid dengan valuasi yang relatif menarik.
Risiko yang Perlu Diperhatikan
Meskipun sektor barang baku menunjukkan pertumbuhan yang positif, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan. Volatilitas nilai tukar rupiah di kisaran Rp 16.700–Rp 16.900 per dolar AS dapat meningkatkan biaya produksi. Selain itu, ketidakpastian kebijakan perdagangan global, termasuk potensi penerapan tarif oleh Amerika Serikat, dinilai dapat menekan kinerja ekspor komoditas industri nasional.
Praska menambahkan, risiko lain yang perlu dicermati adalah potensi koreksi harga komoditas serta realisasi belanja modal (capital expenditure/capex) emiten sepanjang 2026, yang akan memengaruhi keberlanjutan kinerja sektor ini.
Strategi Investasi yang Disarankan
Dalam rekomendasinya, Abida menyarankan beli saham ANTM, BRMS, dan MDKA dengan target harga masing-masing Rp 4.800, Rp 1.200, dan Rp 3.500 per saham. Sementara itu, Praska merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham NCKL, INCO, ANTM, dan ESSA, serta mencermati TPIA untuk investasi jangka panjang.
Sektor barang baku juga berpotensi ditopang oleh Grup Barito, seperti BRPT dan TPIA, yang tengah memperkuat fundamental melalui transformasi ke bisnis energi hijau dan petrokimia terintegrasi. Selain itu, sektor industri dasar melalui SMGR dan INTP juga bisa memberi dukungan, terutama jika program pembangunan 3 juta rumah berjalan sesuai rencana.

>

Saat ini belum ada komentar