Fenomena Rotasi Bumi yang Berlangsung Perlahan Sehari Jadi 25 Jam? Ini Penjelasannya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Rab, 7 Jan 2026
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Perubahan dalam rotasi Bumi menjadi topik menarik bagi ilmuwan dan masyarakat luas. Meski sebagian besar orang menganggap bahwa durasi satu hari selalu tetap 24 jam, penelitian terbaru menunjukkan bahwa proses ini berlangsung secara alami namun sangat lambat. Hal ini memicu pertanyaan apakah suatu saat nanti, durasi hari bisa berubah menjadi 25 jam.
Penyebab Perlambatan Rotasi Bumi
Salah satu faktor utama yang menyebabkan perlambatan rotasi Bumi adalah gaya gravitasi Bulan. Interaksi antara Bumi dan Bulan menciptakan efek pasang surut yang secara perlahan memperlambat kecepatan rotasi Bumi. Proses ini terjadi dengan laju yang sangat rendah, hanya sekitar 1,7 milidetik per abad. Dengan demikian, perubahan tersebut tidak akan terasa dalam waktu dekat.
Pengaruh Terhadap Kehidupan Manusia
Meskipun perubahan durasi hari terjadi secara alami, dampaknya terhadap kehidupan manusia sangat kecil. Seiring waktu, perubahan ini bisa memengaruhi sistem penanggalan dan ritme biologis. Namun, karena prosesnya sangat lambat, hal ini tidak akan langsung terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, ritme sirkadian 24 jam yang telah terbentuk dalam tubuh manusia dan makhluk hidup lainnya akan tetap menjadi dasar dari aktivitas harian.
Penjelasan dari Ahli Ilmu Pengetahuan
Menurut Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, fenomena perlambatan rotasi Bumi bukanlah klaim sembarangan. Ia menjelaskan bahwa efek pasang surut dari Bulan memang mengerem rotasi Bumi sehingga hari makin panjang. Namun, ia juga menegaskan bahwa pada momen tertentu, panjang hari bisa sedikit memendek akibat pergeseran lempeng bumi saat gempa besar seperti gempa Aceh tahun 2004.
Teknologi untuk Mengukur Perubahan Hari
Untuk mengukur perubahan durasi hari, ilmuwan menggunakan teknologi presisi tinggi seperti jaringan teleskop radio yang mengamati galaksi-galaksi jauh dan pengukuran satelit GPS. Namun, perubahan yang tercatat sangat kecil, hanya berorde detik per tahun. Oleh karena itu, tidak terasa dalam hitungan waktu harian bagi masyarakat awam.
Pemodelan Geologi untuk Mengetahui Masa Lalu
Para peneliti juga mengandalkan jejak alam yang terekam dalam struktur geologi untuk mengetahui bagaimana panjang hari di Bumi pada masa purba. Pemodelan dilakukan berdasarkan endapan batuan yang menyimpan rekaman frekuensi pasang-surut air laut serta lapisan hasil aktivitas fotosintesis mikroorganisme purba. Berdasarkan salah satu publikasi ilmiah, sekitar 600 juta tahun lalu panjang hari di Bumi diperkirakan hanya sekitar 21 jam, lebih pendek dibandingkan 24 jam seperti saat ini.
Proses yang Tidak Langsung Memengaruhi Kehidupan Modern
Thomas Djamaluddin menegaskan bahwa meskipun Bumi memang perlahan melambat, proses ini berlangsung amat lambat dan tidak memengaruhi aktivitas manusia sehari-hari. Perubahan yang terjadi terjadi dalam skala waktu yang sangat panjang, yaitu dalam orde jutaan tahun. Oleh karena itu, tidak berdampak langsung pada iklim dan kehidupan modern.
Metode Terbaik untuk Memperkirakan Panjang Hari Masa Lalu
Metode analisis mikro-lapisan batuan purba merupakan cara paling akurat saat ini untuk memperkirakan panjang hari di masa lalu. Dengan metode ini, para peneliti dapat memahami bagaimana rotasi Bumi berubah seiring waktu dan memprediksi kemungkinan perubahan di masa depan.
Secara keseluruhan, meskipun Bumi memang perlahan melambat, perubahan tersebut tidak akan terasa dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini berlangsung dalam skala waktu yang sangat panjang, sehingga tidak memengaruhi aktivitas manusia sehari-hari. Namun, penelitian tentang rotasi Bumi tetap penting untuk memahami dinamika planet kita dan dampaknya terhadap kehidupan di Bumi.***





Saat ini belum ada komentar