BBCA Investor Asing Kembali Mengalami Penjualan Bersih Besar di Pasar Saham Indonesia
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pasar saham Indonesia kembali mengalami tekanan berat pada sesi perdagangan pertama hari ini, Rabu (28/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meluncur tajam, mencatat penurunan sebesar 7,34% ke level 8.321,22. Angka ini menunjukkan koreksi sebesar 659 poin dari posisi sebelumnya. Bahkan, IHSG sempat turun lebih dari 7,8%, nyaris mendekati ambang batas perhentian perdagangan sementara yang ditetapkan oleh otoritas bursa.
Di tengah situasi ini, investor asing tercatat melakukan pembelian senilai Rp 9 triliun. Namun, jumlah penjualan mereka jauh lebih besar, mencapai Rp 12,6 triliun. Hal ini menyebabkan net foreign sell atau penjualan bersih asing mencapai Rp 3,6 triliun. Angka ini menjadi indikator utama dari ketidakpastian dan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas investasi di Indonesia.
Saham Bank Central Asia Jadi Target Utama Investor Asing
Dari data yang tersedia, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu target utama investor asing. Net sell pada saham BBCA mencapai Rp 2,4 triliun. Sebanyak 333,4 juta saham BBCA berpindah tangan dalam sesi perdagangan ini. Akibatnya, harga saham BBCA turun sebesar 5% ke level 7.125.
Selain BBCA, dua bank besar lainnya juga menjadi korban penjualan asing. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) masing-masing mencatat net sell sebesar Rp 917,2 miliar dan Rp 533,4 miliar. Selain itu, saham-saham seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan beberapa emiten lainnya juga tercatat dalam daftar top 10 saham dengan net sell terbesar.
Pengumuman MSCI Memperparah Ketidakpastian Pasar
Penurunan tajam IHSG tidak hanya disebabkan oleh aktivitas investor asing, tetapi juga dipengaruhi oleh pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI memberikan penilaian terkait free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes. Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran global tentang transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia.
Meskipun terdapat perbaikan minor pada data free float dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI), MSCI tetap mempertanyakan kelayakan investasi di pasar Indonesia. Keberatan utama adalah keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu proses pembentukan harga wajar.
Kebijakan Sementara dari MSCI untuk Mitigasi Risiko
Untuk mengatasi risiko tersebut, MSCI menerapkan perlakuan sementara atau interim treatment terhadap sekuritas Indonesia. Kebijakan ini berlaku efektif segera dan mencakup pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham atau Number of Shares (NOS) hasil peninjauan indeks maupun aksi korporasi. Selain itu, MSCI tidak akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta menahan migrasi naik antar segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Kebijakan ini bisa berdampak pada penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes. Bahkan, MSCI membuka peluang untuk reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market, meski hal ini akan dilakukan melalui proses konsultasi pasar.
Dampak pada Volatilitas Pasar dan Arus Dana Asing
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menyatakan bahwa pengumuman MSCI berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dan memicu arus dana asing yang keluar, khususnya dari saham-saham yang sensitif terhadap arus dana berbasis indeks. Saat ini, sejumlah saham di Indonesia sedang bergerak naik karena narasi masuknya saham tersebut ke dalam indeks MSCI. Namun, kondisi ini kini menjadi tidak pasti akibat kebijakan sementara yang diterapkan oleh MSCI.

>

Saat ini belum ada komentar