Waspada Cuaca Ekstrem di Libur Nataru, Ini Tips Aman Traveling dari Pakar UNAIR
- account_circle Shinta ms
- calendar_month Selasa, 9 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM– Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 menjadi momen yang dinantikan banyak masyarakat untuk berwisata.
Namun, kondisi cuaca yang tidak menentu bahkan cenderung ekstrem membuat calon wisatawan perlu ekstra waspada.
Menyikapi hal ini, dosen D4 Destinasi Pariwisata Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR), Novianto Edi Suharno SSTPar MSi, membagikan sejumlah tips penting agar liburan tetap aman dan nyaman.
Novianto menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama, bahkan di atas rencana perjalanan wisata. Menurutnya, rencana liburan tetap bisa ditunda jika kondisi tidak memungkinkan.
“Prinsip utamanya kita harus mengutamakan keselamatan terlebih dahulu, bukan lagi rencana perjalanan wisatanya. Kita masih punya kesempatan untuk berwisata di lain waktu,” tegasnya, Senin (8/12/2025).
Perencanaan Matang Jadi Kunci
Ia menyarankan agar masyarakat rutin memantau informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), khususnya daerah yang menjadi tujuan wisata. Selain itu, pemilihan transportasi yang aman juga harus disesuaikan dengan karakter destinasi.
“Kalau menggunakan kendaraan pribadi, harus disesuaikan dengan tujuan. Misalnya ke daerah pegunungan sebaiknya tidak menggunakan sedan,” jelasnya.
Untuk urusan penginapan, Novianto menyarankan agar wisatawan memilih akomodasi dengan kebijakan pembatalan dan pengembalian dana yang fleksibel. Dengan cuaca yang sulit diprediksi, sistem last minute booking dinilai lebih aman.
“Karena cuaca tidak pasti, wisatawan bisa memilih pemesanan mendekati hari keberangkatan saat kondisi sudah jelas,” terangnya.
Dalam memilih tujuan wisata, ia menilai destinasi indoor seperti museum, pusat perbelanjaan, galeri seni, hingga pertunjukan dalam ruangan lebih aman saat cuaca ekstrem.
Sementara untuk wisata alam, ia menyarankan agar memilih kawasan konservasi yang sudah memiliki tata kelola baik, jalur evakuasi, serta sistem peringatan dini bencana.
Patuhi Protokol Keselamatan di Lokasi Wisata
Novianto juga menjelaskan langkah yang harus dilakukan apabila wisatawan sudah terlanjur berada di destinasi dan menghadapi kondisi ekstrem.
Ia menekankan pentingnya memahami titik evakuasi dan protokol keselamatan di setiap kawasan wisata.
“Jika kondisi tidak memungkinkan, aktivitas harus dihentikan. Misalnya saat pendakian gunung dan terjadi badai, protokol utamanya adalah menghentikan pendakian,” ujarnya.
Di akhir, ia mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri melakukan aktivitas luar ruang hanya karena pengalaman masa lalu. Menurutnya, karakter alam selalu berubah dan penuh ketidakpastian.
“Alam dan aktivitas outdoor itu tidak bisa diprediksi. Kita harus meningkatkan literasi cuaca dan membangun komunikasi aktif dengan pengelola destinasi sebelum berangkat,” pungkasnya. (sms)
- Penulis: Shinta ms

>
>
>