Rekomendasi Strategi Belanja Saham Big Caps Dengan Harga Diskon Menjelang 2026
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Rabu, 10 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Akhir tahun ini dianggap sebagai kesempatan yang ideal bagi para investor untuk menerapkan strategi akumulasi terhadap saham-saham yang memiliki harga rendah atau diskon namun memiliki prospek yang baik pada tahun 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari Selasa (9/12/2025) berakhir melemah sebesar 0,61% atau 53,51 poin menjadi 8.657. Tingkat indeks komposit ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 22,28% secarayear to date (YtD).
Meskipun IHSG mengalami penguatan sejak awal tahun, terdapat beberapa saham yang menjadi pemegang saham utama. top laggard, alias saham-saham yang mengalami penurunan signifikan dan menjadi beban terbesar bagi indeks komposit. Lima saham teratas dalam daftar ini adalah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bayan Resources Tbk. (BYAN).
Harga BBCA pada hari Selasa lalu ditutup turun sebesar 2,41% menjadi Rp8.100, menunjukkan penurunan 16,28% sejak awal tahun. Sementara itu, BBRI naik 0,27% menjadi Rp3.680, tetapi secara YtD harga saham ini mengalami penurunan sebesar 9,80%. Berikutnya, BMRI turun 1,21% ke Rp4.890, atau mengalami penurunan 14,21% YtD. AMMN juga mengalami koreksi sebesar 1,59% menjadi Rp6.200, dengan penurunan 26,84% YtD. Selain itu, saham BYAN ditutup turun 1,27% ke Rp17.500, mencerminkan penurunan 13,58% YtD.
Mengamati penilaian harga saham tersebut,price to earnings ratio(PER) BBCA berada pada 17,26 kali denganrasio harga buku ke nilai buku(PBV) 3,61 kali. Selanjutnya, PER BMRI berada di 9,07 kali dengan PBV 1,62 kali, PER BBRI di 10,26 kali dengan PBV 1,68 kali, PER BYAN ada di 50,22 kali dengan PBV 15,04 kali, sedangkan PER AMMN -113,79 kali dengan PBV 5,51 kali.
Sebagai informasi, PER dan PBV umumnya digunakan sebagai alat untuk menilai harga saham yang wajar. PE dihitung dengan membandingkan harga saham terhadap laba per saham atauearning per share (EPS).
Secara sederhana, PER yang tinggi berarti pasar menganggap perusahaan memiliki potensi yang besar, sehingga harga saham cenderung mahal. Sebaliknya, PER yang rendah menunjukkan bahwa harga saham sedang murah, atau mungkin laba perusahaan sedang menurun. Contohnya, PER AMMN yang negatif sesuai dengan kerugian bersih yang dialami perusahaan selama Januari-September 2025.
Selanjutnya, PBV dihitung dengan membandingkan harga saham terhadap nilai buku per saham ataubook value per share(BVPS) BVPS dapat dihitung dengan membandingkan modal perusahaan terhadap jumlah saham yang beredar. PBV umumnya digunakan untuk menilai apakah harga saham sesuai dengan nilai buku perusahaan.
Analis dari Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, melihat bahwa beberapa saham dalam daftar tersebut menarik untuk dikumpulkan karena harganya relatif murah meskipun dasar keuangannya positif.
Untuk strategi investasi, saham-saham yang mengalami penurunan cukup besar seperti bank-bank besar justru lebih menarik untuk dikumpulkan secara bertahap. Pendekatannya bisa dilakukan dengandollar-cost averagingmendekati awal tahun 2026 sambil menantikan kepastian siklus penurunan suku bunga global, stabilisasi rupiah, dan peningkatan kualitas kredit,” ujar Ekky kepada Bisnis, Selasa (9/12/2025).
Sementara untuk saham komoditas seperti BYAN dan AMMN, Ekky menyarankan agar dilakukan pendekatan yang lebih selektif. Investor sebaiknya menunggu kejelasan siklus harga atau konfirmasi teknikal yang lebih kuat sebelum memasuki pasar.
Ekky menganggap penurunan harga saham yang dialami lima perusahaan tersebut sepanjang 2025 sudah terlihat cukup jauh dalam valuasinya, khususnya untuk bank-bank besar seperti BBRI dan BMRI. Secaraprice-to-book value,kedua perusahaan tersebut kini berada pada tingkat yang relatif terjangkau secara historis, sehingga dari segi valuasi bisa dikatakan mulai mendekati harga yang wajar.
“Berbeda dengan BBCA yang meskipun secara PER dan PBV masih lebih mahal, valuasinya justru terlihat lebih menarik dibanding posisi 1–2 tahun terakhir karena pertumbuhan laba tetap positif dan kualitas aset tetap terjaga. Jadi untuk perusahaan yang dasar keuangannya tetap kuat, penurunan harga tahun ini lebih disebabkan oleh sentimen pasar, bukan karena melemahnya kinerja inti,” ujar Ekky.
Mengamati kinerja laba bersih selama periode Januari-September 2025 dari lima perusahaan tersebut, BBCA mencatat peningkatan laba bersih sebesar 5,7%year on year(YoY) mencapai Rp43,4 triliun, sementara BBRI melaporkan laba bersih sebesar Rp41,23 triliun atau turun 9,1% YoY, kemudian BMRI meraih laba bersih sebesar Rp37,7 triliun atau turun 10,24% YoY.
Selanjutnya, BYAN mengalami penurunan laba sebesar 15,89% YoY menjadi US$ 522,15 juta, sementara AMMN mengalami kerugian bersih sebesar US$175 juta, berlawanan dengan laba bersih pada periode yang sama tahun 2024 senilai US$720 juta.
Secara keseluruhan, menurutnya peluang reboundpada tahun 2026, kelima saham tersebut cukup terbuka, tetapi yang paling kuat berada di sektor perbankan besar yang saat ini valuasinya sudah mencapai titik menarik dan menjadi kandidat utama untuk re-ratingsaat sentimen global kembali menguntungkan.
“Untuk peluang reboundTahun depan, sektor perbankan besar menurut saya merupakan kandidat paling jelas. Jika suku bunga global memasuki tahap penurunan pada 2026, maka NIM, pertumbuhan kredit, serta tekanan biaya dana berpotensi meningkat. Selain itu, bank besar biasanya menjadi prioritas utama aliran dana asing ketika risiko global menurun,” katanya.
Ekky menjelaskan, BBCA memiliki prospek pemulihan tercepat karena kualitas asetnya paling stabil, sementara BBRI dan BMRI memiliki potensi kenaikan yang lebih besar berdasarkan valuasi yang sudah sangat murah.
Selanjutnya, mengenai emiten komoditas seperti BYAN dan AMMN, menurutnya prospeknya lebih tergantung pada siklus harga komoditas. Saat ini, valuasi saham BYAN masih sangat tinggi sehingga ruang untuk kenaikannya terbatas, sementara AMMN memerlukan sentimen positif dari harga tembaga serta kejelasan dalam ekspansi hilirisasi agar minat pasar kembali pulih.
Disclaimer: berita ini tidak dimaksudkan untuk mendorong pembelian atau penjualan saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. DIAGRAMKOTA.COM tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

>
>
Saat ini belum ada komentar