Persebaya Surabaya Terjebak Masalah Pelatih: Kekosongan di Pucuk Kepemimpinan Jelang Lawan Persijap Atau Denda 100 Juta
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 8 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Persebaya Surabaya, salah satu klub sepak bola terkemuka di Indonesia, tengah menghadapi tantangan besar dalam mencari pelatih kepala. Setelah pemecatan Eduardo Perez pada 22 November 2025, klub ini masih belum memiliki pengganti yang resmi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius karena regulasi I.League 2025/2026 memaksakan klub untuk mendaftarkan pelatih baru maksimal 30 hari setelah pengumuman pemutusan kontrak.
Kondisi ini membuat manajemen Persebaya harus segera bertindak. Batas waktu pendaftaran pelatih baru jatuh pada 25 Desember 2025, yang berarti hanya tersisa beberapa minggu untuk menyelesaikan masalah ini. Jika tidak, klub akan dikenai denda sebesar Rp 100 juta sesuai Pasal 19 Regulasi I.League. Denda ini bisa meningkat menjadi tambahan Rp 200 juta jika klub tetap belum mendaftarkan pelatih kepala dalam periode 30 hari berikutnya.
Tantangan di Lapangan dan Tekanan Internal
Di tengah situasi ini, Persebaya Surabaya juga sedang berjuang mencari konsistensi di lapangan. Tim ini baru saja menahan imbang PSM Makassar dengan skor 1-1 di Stadion Gelora B.J. Habibie pada 6 Desember 2025. Laga tersebut berlangsung ketat dengan kedua tim saling mengancam sejak menit awal. Hasil ini membuat Persebaya Surabaya menempati posisi sembilan klasemen sementara dengan 13 poin.
Namun, pekerjaan rumah terbesar tetap sama: mencari pelatih baru sesegera mungkin. Uston Nawawi, yang kini berperan sebagai pelatih interim, terus memimpin sesi latihan sambil menunggu keputusan manajemen. Kondisi tanpa pelatih kepala cukup riskan di tengah padatnya jadwal Desember. Persebaya Surabaya harus menjalani dua laga kandang penting sebelum menutup tahun.
Jadwal Padat dan Tekanan Meningkat
Laga pertama yang akan dihadapi adalah melawan Borneo FC pada 20 Desember 2025 di Gelora Bung Tomo. Laga ini bisa menjadi momentum kebangkitan sekaligus ajang pemantauan bagi calon pelatih baru. Empat hari berselang, tenggat waktu semakin dekat dan tekanan makin menguat. Persebaya Surabaya dijadwalkan menjamu Persijap Jepara pada 28 Desember 2025.
Tekanan ini hadir ketika tim sedang berjuang mencari konsistensi di lapangan. Kekosongan pelatih kepala memicu kekhawatiran tentang kemampuan klub dalam menghadapi kompetisi yang semakin ketat. Manajemen Persebaya Surabaya harus segera mengambil keputusan strategis untuk memastikan bahwa tim tetap siap berkompetisi di bawah arahan pelatih yang tepat.
Dampak pada Performa dan Citra Klub
Masalah ini tidak hanya berdampak pada performa tim di lapangan, tetapi juga pada citra klub secara keseluruhan. Kekosongan pelatih kepala dapat memberikan kesan bahwa manajemen klub tidak siap menghadapi tantangan kompetisi. Ini bisa berdampak pada dukungan suporter dan reputasi klub di tingkat nasional.
Selain itu, tekanan finansial dari denda yang bisa mencapai ratusan juta rupiah juga menjadi perhatian serius. Kondisi ini memperkuat kebutuhan Persebaya Surabaya untuk segera menemukan pelatih baru agar bisa menghindari konsekuensi yang lebih berat.
Kesiapan Menghadapi Kompetisi Berikutnya
Dengan jadwal yang padat dan tekanan yang meningkat, Persebaya Surabaya harus segera mengambil langkah tegas. Pemilihan pelatih baru tidak boleh dilakukan secara terburu-buru, tetapi juga tidak boleh terlalu lambat. Manajemen klub perlu mempertimbangkan kualifikasi, pengalaman, dan kemampuan teknis pelatih yang akan dipilih.
Pemilihan pelatih yang tepat akan sangat berpengaruh pada performa tim di musim mendatang. Selain itu, pelatih baru juga harus mampu membangun kohesi dalam tim dan meningkatkan motivasi para pemain. Dengan demikian, Persebaya Surabaya dapat kembali menunjukkan performa yang lebih baik dan memenuhi ekspektasi suporter serta pihak terkait. ***

>

Saat ini belum ada komentar