Catcalling, Akses Jauh, dan Fasilitas Minim Alasan Gen Z Enggan ke Mangrove Surabaya
- account_circle Shinta ms
- calendar_month Rabu, 24 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Wisata mangrove yang selama ini digadang sebagai andalan ekowisata Surabaya mulai kehilangan daya tarik di mata Generasi Z.
Sejumlah anak muda justru lebih memilih menghabiskan liburannya di destinasi yang dianggap lebih ramah, aman, dan menawarkan pengalaman visual yang beragam, seperti Kebun Binatang Surabaya (KBS) dan Park Shanghai di kawasan Pakuwon City Mall (PCM).
Allison dan Philea, dua pengunjung KBS berusia 23 tahun, mengaku sudah lama tidak kembali ke kawasan mangrove.
Meski sempat berkunjung saat masih duduk di bangku SMP dan SMA, mereka menilai wisata mangrove belum mengalami perubahan signifikan yang mampu menarik minat anak muda untuk datang kembali.
“Kita pernah ke mangrove, tapi itu dulu banget, jaman sekolah. Sekarang sudah lama nggak ke sana lagi,” ujar Allison saat ditemui di KBS, Selasa (23/12/202).
Menurut keduanya, alasan memilih KBS cukup sederhana. Selain menyukai binatang, KBS juga memiliki nilai nostalgia sekaligus menawarkan wajah baru yang membuat mereka penasaran. “Dulu waktu kecil sudah pernah ke KBS, tapi sekarang banyak yang baru katanya, jadi pengin lihat lagi,” kata Philea.
Berbeda dengan mangrove yang dinilai monoton, KBS dianggap lebih variatif. Namun demikian, Allison dan Philea tetap mencatat beberapa catatan evaluasi, terutama soal kebersihan.
Mereka menyoroti masih banyaknya sampah botol yang berserakan serta kondisi beberapa satwa, seperti monyet yang terlihat kurus.
“Kalau lebih bersih lagi, pasti lebih nyaman,” tambah Allison.
Sementara itu, pengalaman ke wisata mangrove justru meninggalkan kesan kurang menyenangkan.
Selain akses yang dinilai cukup jauh dan terbatas, mereka juga menyoroti persoalan keamanan dan kenyamanan pengunjung.
“Di sana cuma jalan-jalan aja, fasilitasnya minim. Terus banyak catcalling, itu bikin nggak nyaman,” ungkap Philea.
Bagi Gen Z, faktor kenyamanan dan rasa aman menjadi pertimbangan utama dalam memilih destinasi wisata.
Hal ini pula yang membuat Park Shanghai, sebagai wisata baru bernuansa tematik dan instagramable, mulai dilirik anak muda Surabaya.
“Alternatifnya ya paling KBS sama Park Shanghai. Wisata Surabaya selain itu rasanya masih dikit,” ujar Allison.
Keterbatasan pilihan wisata ini juga memunculkan kerinduan terhadap destinasi hiburan lama yang kini telah ditutup, seperti Surabaya Carnival dan Taman Remaja (THR).
Menurut mereka, Surabaya membutuhkan lebih banyak ruang rekreasi luar ruang, seperti amusement park dan water park, yang bisa menjadi pelarian dari dominasi pusat perbelanjaan.
“Di Surabaya kebanyakan mall, jadi orang-orang mungkin sudah bosan. Pengen wisata outdoor yang seru, kayak water boom atau taman bermain,” kata Allison.
Meski begitu, keduanya tetap berharap wisata Surabaya bisa terus berbenah. Bukan hanya dari sisi pembangunan, tetapi juga perawatan dan perilaku pengunjung.
“Kalau tempatnya sudah ada tapi nggak dijaga, sayang banget. Harapannya ke depan wisata Surabaya makin rapi dan nyaman,” tutup Allison.
Fenomena ini menjadi sinyal bagi Pemerintah Kota Surabaya untuk mengevaluasi arah pengembangan wisata.
Di tengah cuaca ekstrem dan mahalnya biaya liburan ke luar kota, Surabaya sejatinya memiliki peluang besar menahan warganya untuk berwisata di dalam kota asal destinasi yang ada mampu menjawab kebutuhan dan selera generasi muda. (sms)
- Penulis: Shinta ms

>
>
>
