Ujian Berat Ketersediaan Pangan RI
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Indonesia kini menghadapi tantangan besar dalam menjaga ketahanan pangan. Tiga faktor utama yang menjadi ancaman adalah depresiasi rupiah, kenaikan harga komoditas pangan global, dan dampak El Nino yang mulai terasa. Ketiganya bersama-sama berpotensi memicu kenaikan harga pangan impor serta menurunkan produksi beras nasional.
Depresiasi Rupiah dan Harga Pangan Dunia Memicu Fluktuasi Harga Dalam Negeri
Sejak 4 Juni 2026, nilai tukar rupiah mencapai Rp 18.000 per dolar AS, yang merupakan titik terendah sepanjang sejarah. Depresiasi ini mencapai hampir 8 persen secara tahun kalender. Kondisi ini semakin diperparah oleh kenaikan harga komoditas pangan dunia seperti gandum, gula, dan kedelai.
Data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa pada Mei 2026, harga gandum dunia mencapai 303 dolar AS per ton, gula 0,34 dolar AS per ton, dan kedelai 474 dolar AS per ton. Indonesia sangat bergantung pada impor ketiga komoditas tersebut. Pada 2025, negara ini mengimpor gula sebanyak 3,93 juta ton, gandum 11,76 juta ton, dan kedelai 2,56 juta ton.
El Nino Memengaruhi Produksi Beras Nasional
El Nino lemah telah memasuki wilayah Indonesia sejak akhir Mei 2026. Dengan peluang intensitas meningkat menjadi moderat (98 persen) dan kuat (62 persen), El Nino berpotensi menyebabkan penurunan produksi beras. Berdasarkan data BPS, produksi beras nasional pada Januari-Juli 2026 diprediksi turun 0,35 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.
Harga beras juga mengalami kenaikan. Pada Mei 2026, inflasi bulanan dan tahunan beras di tingkat eceran masing-masing sebesar 0,39 persen dan 4,55 persen. Harga beras medium nasional per 9 Juni 2026 mencapai Rp 13.766 per kilogram, naik 0,23 persen secara bulanan.
Langkah Pemerintah untuk Mengatasi Tantangan Pangan
Pemerintah telah mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi ancaman-ancaman ini. Salah satunya adalah pemberian subsidi bagi 250.000 ton kedelai impor yang digunakan sebagai bahan baku UMKM tahu dan tempe. Subsidi senilai Rp 2.000 per kg bertujuan untuk menjaga stabilisasi harga bahan baku.
Selain itu, pemerintah menambah bantuan pangan berupa beras selama tiga bulan (Juli-Agustus-September 2026) bagi 33,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Setiap KPM akan menerima 10 kg beras per bulan.
Strategi Pertanian untuk Menghadapi Musim Kemarau
Di tengah ancaman El Nino, Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan peningkatan produksi beras nasional sebesar 1 juta ton pada 2026. Untuk mencapai target ini, Kementan menerapkan strategi pengairan dan konservasi air. Beberapa upaya yang dilakukan antara lain:
- Pengembangan irigasi perpompaan dengan sumur bor berbasis listrik.
- Irigasi perpipaan menggunakan sumber air pegunungan.
- Pembangunan bangunan konservasi seperti embung dan dam parit.
- Penyediaan pompa portabel untuk daerah yang membutuhkan.
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
Kementan juga fokus pada pengendalian hama dan penyakit tanaman yang berpotensi menyerang pada musim kemarau. Beberapa hama utama yang dikhawatirkan antara lain wereng batang cokelat, penggerek batang padi, dan tikus. Untuk mengendalikan hal ini, Kementan menerapkan:
- Pengelolaan hama terpadu.
- Sistem monitoring organisme pengganggu tanaman (OPT) skala luas.
- Pemodelan peramalan OPT.
Tantangan pangan yang dihadapi Indonesia saat ini memerlukan kebijakan yang tepat dan strategi yang efektif. Dengan kombinasi subsidi, bantuan sosial, dan inovasi pertanian, pemerintah berupaya memperkuat benteng pangan negara. Namun, perlu adanya kerja sama lintas sektor dan kesadaran masyarakat agar stabilitas harga dan pasokan pangan dapat terjaga.***

>

Saat ini belum ada komentar